• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Atas Dedikasinya Promosikan Sawit Tanpa Pekerja Anak, GAPKI Raih PAACLA Award 2025

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menerima apresiasi Special Award dari PAACLA (Partnership for Action Against Child Labour in Agriculture), di momen peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (HDMPA) yang diperingati 12 Juni.

Diketahui, PAACLA adalah inisiatif Pemerintah, dalam hal ini Badang Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (BAPPENAS) bersama sejumlah stakeholders dalam upaya penanggulangan pekerja anak di perdesaan pertanian.

Tahun 2025 ILO (International Labour Organisation) mencatat di dunia masih ada 138 juta pekerja anak. Menjadi menantang 61% sebaran pekerja anak ada di perdesaan.

“Pemberian penghargaan kepada sejumlah pihak jadi salah satu agenda, salah satunya diberikan kepada GAPKI. Penghargan diberikan kepada GAPKI atas sejumlah upaya berkesinambungan dalam mempromosikan sawit tanpa pekerja anak" ujar Sumarjono Saragih, Ketua GAPKI Bidang Pengembangan SDM, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Kamis (12 Juni 2025).

Lebih lanjut, ia mengatakan sawit bukan saja tanpa pekerja anak. Itu normatif regulasi. Lebih dari itu, yakni sawit ramah anak. Perusahaan perkebunan sawit menyediakan akses dan fasilitas yang layak untuk pendidikan, kesehatan, day care dan prasarana lainya.

“Sebagai sektor di perdesaan, sawit banyak mendapat tekanan tentang isu pekerja anak. Perusahaan sawit tentu tunduk pada regulasi yang melarang pekerja anak. Secara kolaboratif, GAPKI mengabil inisiatif berkampanye dan membagikan praktek baik. Melalui seminar, lokakarya dan publikasi Buku Panduan Sawit Indonesia Ramah Anak (SIRA),” imbuh Sumarjono.

Diungkapkan Sumarjono, terbaru tahun 2024, publikasikan SIRA melalui video. Dengan cara itu diharapkan semua ekosistem industri sawit dan ekonomi pertanian di perdesaan memahami pentingnya aktivitas ekonomi tanpa pekerja anak.

“Menghormati, melindungi dan memenuhi hak anak adalah pekerjaan semua elemen masyarakat,” ungkapnya.

Dunia terus berpacu memberantas keterlibatan pekerja anak dalam ratai ekonomi. Kabar baiknya, ada penurunan jumlah signifikan. Secara global berkurang 20 juta dalam 5 tahun terakhir. Secara nasional, Indonesia juga mencapai kemajuan yang menggembirakan. Pemerintah memiliki sejumlah program. Ada petajalan mengakhiri pekerja anak.

“Ada inisiatif kota dan kabupaten layak anak. Industri sawit pun berkontribusi nyata. GAPKI sebagai organisasi pengusaha sawit, diganjar special award atas kontribusi nyata sejak 2021. Mempromosikan sawit ramah anak,” jelas Sumarjono.

Sawit Indonesia bekelanjutan, bukan saja tanpa pekerja anak melainkan berkelanjutan dan ramah anak. “Menjadi kunci menuju generasi Indonesia Emas 2045. GAPKI dan industri sawit sudah dan akan terus bergerak. Namun GAPKI sendiri tidak cukup. Harus ada upaya lebih masif dan kolaboratif. Inisiatif dan leadership kepala daerah menjadi kunci. Dalam pemerintahan otonomi daerah, mereka bisa menjadi regulator dan orkestrator,” pungkas Sumarjono.

Artikel Terkait