• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

ASP: Kampus dan Industri Sawit Harus Berjalan Seiring

Sanggau, SAWIT INDONESIA – Pertemuan akademisi dan praktisi menjadi kesan penting bagi PT Agrina Sawit Perdana (ASP) dalam Workshop Penguatan Pengembangan SDM Kelapa Sawit Berkelanjutan bagi Dosen Perguruan Tinggi Pengelola Beasiswa BPDP di Sanggau, Kalimantan Barat, 26–29 Agustus 2026.

Workshop yang diikuti 44 perwakilan perguruan tinggi pengelola beasiswa sawit (Dosen, Direktur, Wakil Direktur Kaprodi dan Dosen) ini dinilai bukan sekadar kegiatan pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan nyata industri.

Chief HCM PT Agrina Sawit Persada (ASP) Armadi Wijaya Kusuma mengatakan, pertemuan akademisi dan praktisi penting karena lulusan perguruan tinggi pada akhirnya akan menjadi tenaga kerja, termasuk di industri sawit.

“Ini adalah momen penting di mana akademisi bertemu dengan praktisi. Ini sebetulnya simbiosis mutualisme,” ujar Armadi, pada Rabu (26 Agustus 2026).

Menurutnya, pendidikan harus sejalan dengan kebutuhan industri sehingga ilmu yang diperoleh mahasiswa dapat diterapkan ketika memasuki dunia kerja.

“Apa yang dipelajari di dunia pendidikan harus inline dengan apa yang nanti akan dipraktikkan di lapangan,” katanya.

Armadi menyambut baik ASP menjadi lokasi workshop. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan keterbukaan industri sekaligus tanggung jawab moral dalam mendukung pengembangan SDM sawit, termasuk generasi muda.

Soft skill jadi modal utama

Dari perspektif industri, Armadi menilai generasi muda saat ini unggul dalam teknologi dan akses informasi. Namun, industri tidak hanya membutuhkan knowledge dan skill, tetapi juga soft skill, terutama kepercayaan diri, kemauan bekerja, keberanian, dan kemampuan beradaptasi.

“Kalau berbicara kompetensi, jangan kompetensi dulu. Yang paling penting adalah soft skill. Pertama kali adalah percaya diri,” ujarnya.

Kemampuan tersebut penting karena banyak pekerjaan perkebunan berada di remote area yang menuntut kemampuan adaptasi.

“Di remote area itu tidak mudah. Harus adaptasi. Makanya kepercayaan diri itu penting,” katanya.

Armadi juga menegaskan bahwa attitude harus menjadi fondasi sebelum knowledge dan skill.

“Bukan hanya sekadar knowledge dan bukan hanya sekadar skill, tetapi attitude dulu yang utama,” tegasnya.

Pendidikan harus lebih spesifik

Untuk memperkuat kesiapan lulusan, Armadi mendorong perguruan tinggi pengelola Beasiswa BPDP memperkuat spesialisasi pendidikan di bidang sawit.

“Kalau memang ini di sawit, ya di sawit. Yang diajarkan adalah tentang sawit. Kalau sudah di sini, harus ada penjurusan yang spesifik,” ujarnya.

Perguruan tinggi juga perlu lebih sering menghadirkan praktisi agar mahasiswa memahami kondisi lapangan, bukan hanya mengandalkan program magang.

“Hadirlah para praktisi lebih sering atau jemput bola ke para praktisi supaya mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan,” katanya.

Menurut Armadi, pendampingan juga perlu ditingkatkan dari sekadar coaching menjadi mentoring agar mahasiswa lebih percaya diri dan siap menghadapi dunia kerja.

“Bukan sekadar coaching, tetapi mentoring. Lakukan kebersamaan pendampingan supaya kepercayaan dirinya menjadi lebih kuat dan ketika diimplementasikan di lapangan dia benar-benar lebih siap,” ujarnya.

Perlu saling terbuka dan mau belajar

Armadi juga mengingatkan para dosen dan pihak senior agar menghilangkan ego dalam proses transfer pengetahuan.

“Para pimpinan ataupun yang lebih senior harus bisa berdamai dengan diri sendiri supaya kita bisa transfer knowledge,” katanya.Menurutnya, generasi muda memiliki akses pengetahuan yang luas dan cepat. Namun, informasi yang banyak tidak selalu berarti pemahaman yang mendalam.

“Anak-anak sekarang dengan jendela ilmu di mana-mana, mereka mendapatkan yang serba instan. Mereka seolah-olah mengerti, tetapi belum paham,” ujarnya.

Untuk itu, hubungan dosen, praktisi, dan mahasiswa perlu dibangun secara terbuka. Akademisi dapat memahami persoalan lapangan, sementara industri juga dapat belajar dari teori dan hasil penelitian. “Harus yang namanya agile dan humble,” katanya.

Ia juga mendorong agar hubungan dengan mahasiswa tidak terlalu berjarak.

“Anak didik itu menjadi teman, bukan sekadar anak didik. Kalau menjadi teman dan menjadi satu bagian daripada kita, saya percaya tidak ada kata sulit,” ujarnya.

Lebih lanjut, Armadi menilai generasi muda juga perlu diberikan visi yang jelas mengenai masa depannya di industri sawit, tetapi tidak perlu didikte mengenai cara mencapainya.

“Dia harus diberikan visi yang jelas. Kamu nanti bekerja di sawit mau jadi apa? Mau jadi direktur, GM atau apa. Tapi kita tidak bisa mendikte caranya,” katanya.

Senior, lanjutnya, cukup berperan sebagai pendamping dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkreasi.

Bagi ASP, workshop ini diharapkan memperkuat link and match antara kampus dan industri. Pendidikan tidak berhenti pada teori, sementara industri bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan SDM sawit.

Artikel Terkait