• Kamis, 8 Oktober 2026
Berita Terbaru

Aprobi Uraikan 4 Faktor Keberhasilan Program Biodiesel Indonesia

Bogor, SAWIT INDONESIA – Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan empat faktor yang mendukung keberhasilan program biodiesel di Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua Bidang Sustainability APROBI Rapolo Hutabarat dalam presentasinya saat menjadi narasumber Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit yang diselenggarakan Majalah SAWIT INDONESIA didukung BPDP serta APROBI dan GIMNI di Bogor, Sabtu (22 Februari 2025).

Pertama, konsistensi pemerintah sebagai inisiator program BBN (Bahan Bakar Nabati) yang mendukung program ini. Kedua, dukungan industri antara lain Industri Biodiesel, Pertamina dan BU BBM, Industri Otomotif, Asosiasi Industri dan pengguna alat berat, Kereta Api yang mendukung dengan berpartisipasi dalam Uji Coba dan menggunakan BBN.

Ketiga, keterlibatan pusat riset antara lain LEMIGAS, BPPT/BRIN, Badan LitBang ESDM, BSN, ITB dan perguruan tinggi yang mengembangkan dan menguji BBN. Keempat, dukungan pendanaan sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (red-sekarang BPDP) yang mendukung riset dan uji kinerja serta uji jalan Biodiesel.

Rapolo mengatakan pelaku usaha terus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan mandatori biodiesel. Dia merinci sejak 2005 kapasitas terpasang biodiesel terus naik, tahun 2024 mencapai lebih dari 20 Juta kilo liter (k/l).

Di samping itu, Rapolo menyebut jika terdapat juga bahan energi terbarukan seperti bioethanol dan bioavtur yang harus didorong ke depan oleh pemerintah.

“Perusahaan bioethanol yang bernaung di Aprobin ada beberapa. Program bioethanol itu belum berjalan seperti yang ditetapkan regulasi. Di Jawa Timur, misalnya, sudah ada percampuran. Kita dorong berjalam program bioethanol bisa jalan baik dari sawit atau minyak nabati lainnya,” jelasnya.

Dikatakannya, bioavtur pun akan menjadi kebutuhan energi ramah lingkungan ke depan yang wajib digunakan di Eropa.

“Kembali ke ketahanan energi, kami kira perlu didorong memblending, menggunakan sawit untuk bioavtur. Karena dalam waktu ke depan 2026 atau 2027 harus semua penerbangan yang mendarat ke Eropa menggunakan bioavtur,” ucapnya.

Artikel Terkait