Bali, SAWIT INDONESIA - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) bersama asosiasi produsen biodiesel se-Asia Tenggara resmi membuka perhelatan 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (17 September 2026). Perhelatan ini menegaskan peran strategis palm biodiesel sebagai pilar utama ketahanan energi nasional dan transisi menuju emisi nol bersih (net-zero emissions).
Dalam pidato pembukaannya, Vice Chairperson APROBI Catra Aradea de Thouars menyampaikan bahwa pasar energi global saat ini tengah menghadapi tantangan dalam menjaga kedaulatan energi sembari menekan emisi karbon. Di kawasan Asia Tenggara, pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit dinilai terbukti efektif mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
"Di Asia Tenggara, kemajuan kita terlihat nyata. Indonesia terus memelopori mandat pencampuran tinggi melalui transisi dari B40 menuju B50, sementara Malaysia dan Thailand turut memperluas program domestik mereka. Biodiesel sawit bukan lagi sekadar bahan bakar alternatif, melainkan fondasi kemandirian energi dan stabilitas ekonomi," ujar Catra di Sofitel Bali Nusa Dua, Kamis (17 September 2026).
Catra menambahkan, ekspansi industri kini tidak hanya berfokus pada kendaraan darat, tetapi juga mulai merambah ke pengembangan bioetanol, B100 konsentrasi tinggi, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).
Namun, perluasan mandat pencampuran membutuhkan keselarasan teknis, operasional, dan regulasi. Forum yang digagas APROBI bersama Malaysian Biodiesel Association (MBA) dan Thai Biodiesel Producer Association (TBPA) ini akan mengulas akselerasi regulasi ASEAN, kesiapan rantai pasok kepulauan, hingga keberlanjutan bahan baku serta penerapan standar ISPO/RSPO.
ESDM Pastikan B50 untuk 2027
Pada kesempatan yang sama, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa implementasi mandat B50 ditargetkan dapat terealisasi pada 2027.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa keberhasilan B50 sangat bergantung pada komitmen pasokan serta kesiapan investasi di lini produksi maupun logistik distribusi (offtaker).
"Target B50 ini ditargetkan juga untuk tahun 2027. Kami ingin memastikan komitmen penyaluran B50 di pasar berjalan tanpa kendala, sehingga dibutuhkan kolaborasi erat dengan seluruh rantai pasok dan pengiriman guna mendorong investasi serta pemenuhan volume," jelas Eniya.
Pemerintah memberikan tenggat waktu setidaknya satu tahun ke depan untuk mematangkan infrastruktur teknis serta pengujian kompatibilitas sebelum mandat B50 resmi diberlakukan.
Mengenai wacana peningkatan tahap berikutnya ke B60, Eniya mengakui terdapat tantangan teknis yang cukup besar jika hanya mengandalkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Untuk itu, pemerintah membuka opsi penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) sebesar 10% sebagai pelengkap.
"Pencampuran hingga 60% memiliki tantangan tersendiri. Namun, ada potensi kita menambah 10% menggunakan HVO jika ingin melampaui B50, dengan catatan tetap mempertimbangkan keekonomian dan penyesuaian harga HVO di pasar," tuturnya.














