• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Apical-Earthworm Perkuat Benteng Desa Hadapi Karhutla, Warga Tepian Makmur Dibekali Deteksi Dini

KUTAI TIMUR, SAWIT INDONESIA — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa menjadi salah satu kunci untuk mencegah api berkembang dan meluas.

Atas dasar itu, Apical bersama Earthworm Foundation memperkuat kapasitas masyarakat Desa Tepian Makmur, Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, melalui sosialisasi dan edukasi pencegahan serta penanganan awal karhutla.

Kegiatan yang digelar di Balai Desa Tepian Makmur, 14 September 2026, tersebut melibatkan pemerintah desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta relawan Peduli Api. Tidak hanya mendapatkan materi, peserta juga dibekali praktik penggunaan peralatan pemadam, pembuatan sekat bakar (firebreak), hingga langkah yang perlu dilakukan saat menemukan potensi kebakaran.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan pencegahan karhutla. Deteksi dini, pelaporan cepat, kesiapan peralatan, serta kemampuan melakukan penanganan awal dinilai penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Kepala Desa Tepian Makmur, Suharto, mengatakan keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menjaga wilayah desa dari risiko karhutla. Salah satunya dengan mendorong perubahan praktik pembukaan lahan agar tidak menggunakan api.

“Kami berkomitmen untuk menjaga wilayah Desa Tepian Makmur bebas dari asap karhutla. Melalui sosialisasi ini, kami mengajak seluruh warga, terutama para petani, untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar. Kami juga memperkuat peran relawan lokal agar selalu siap siaga melakukan penanganan cepat jika muncul titik api,” ujar Suharto.

Bagi Apical, penguatan kesiapsiagaan masyarakat merupakan bagian dari pendekatan perlindungan lingkungan yang berjalan seiring dengan penguatan kehidupan masyarakat desa.

CSR Manager Apical, Agus Wiastono, mengatakan program tersebut diarahkan untuk memberikan manfaat yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah program.

“Melalui program Sustainable Living Village, kami ingin menghadirkan manfaat yang relevan bagi masyarakat dengan memperkuat kapasitas mereka dalam menjaga lingkungan dan merespons risiko di sekitar mereka. Pencegahan karhutla membutuhkan kesiapsiagaan masyarakat dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah desa, KPHP Bengalon, Earthworm Foundation, dan masyarakat setempat,” kata Agus.

Bukan Sekadar Sosialisasi

Dalam kegiatan tersebut, KPHP Bengalon memberikan pemahaman mengenai regulasi dan ketentuan hukum terkait pembakaran hutan dan lahan. Materi kemudian diperkuat dengan pembekalan teknis mengenai penggunaan peralatan pemadam dan pembuatan firebreak.

Sekat bakar menjadi salah satu langkah preventif yang diperkenalkan kepada masyarakat untuk membantu membatasi pergerakan api apabila kebakaran terjadi. Sementara itu, kemampuan mendeteksi dan melaporkan potensi kebakaran secara cepat diharapkan dapat memperpendek waktu respons sebelum api membesar.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pencegahan karhutla dibangun melalui kombinasi perubahan perilaku, pengetahuan teknis, kesiapan relawan, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Program tersebut merupakan bagian dari Sustainable Living Village (SLV) yang dijalankan Apical bersama Earthworm Foundation di Desa Tepian Makmur, Tepian Indah, dan Tepian Langsat sejak 2024. Program ini direncanakan berlangsung hingga 2029.

SLV menggabungkan penguatan mata pencaharian masyarakat dengan perlindungan lingkungan melalui kolaborasi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.Dengan pendekatan tersebut, pencegahan karhutla tidak ditempatkan sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan desa dalam jangka panjang.

Apical dan Earthworm Foundation mendorong agar pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat, terutama dalam pengelolaan lahan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran.

Desa Tepian Makmur pun diharapkan semakin memiliki kapasitas untuk mengenali risiko, mencegah munculnya api, serta melakukan respons awal secara cepat dan terkoordinasi ketika ancaman karhutla muncul.

Artikel Terkait