Jakarta, SAWIT INDONESIA - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah gelombang El Nino ekstrem menuntut soliditas dan keterlibatan aktif dari seluruh elemen bangsa. Upaya pencegahan serta penanggulangan musibah ini dinilai mustahil jika hanya dibebankan kepada pemerintah atau perusahaan pemegang konsesi semata.
Pakar hukum kehutanan Universitas Al-Azhar Indonesia, Dr. Sadino, menjelaskan bahwa kondisi El Nino berpotensi melipatgandakan dampak karhutla dengan durasi kejadian yang jauh lebih panjang. Faktor ini otomatis menuntut kesiapan sumber daya, sarana prasarana, hingga alokasi biaya yang tidak sedikit.
"Kalau dilihat dari kondisi El Nino memang ada potensi ke sana, dampaknya lebih besar dengan waktu yang lebih panjang. Tentu memerlukan biaya besar, maka diperlukan kerja sama semua pihak," ujar Sadino dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Sadino mengingatkan bahwa musibah kebakaran dapat melanda wilayah mana saja tanpa memandang status penguasaan lahan, termasuk kawasan konservasi seperti taman nasional. Mengingat sifat api yang tidak pandang bulu, ia menegaskan pentingnya objektivitas dan kehati-hatian dalam menyikapi setiap insiden di lapangan.
Penegak hukum diminta untuk tidak langsung melontarkan generalisasi atau menuding pihak tertentu, melainkan harus membuktikan penyebab kebakaran berdasarkan fakta yang valid.
Pentingnya Investigasi Berbasis Fakta
Dalam proses penyelidikan, Sadino menekankan krusialnya penelusuran asal-usul api (fire origin). Meskipun titik awal kemunculan api kerap terdeteksi melalui pantauan satelit, pelacakan secara faktual di lapangan kerap menemui hambatan tersendiri. Terlebih lagi, masih banyak kawasan hutan dan lahan yang bersifat open access atau luput dari pengawasan optimal.
Oleh karena itu, penyidik harus cermat membedakan antara lokasi kebakaran, titik awal api, sumber api, hingga pihak yang benar-benar harus bertanggung jawab. Pendekatan berbasis fakta ini krusial agar penanganan karhutla tidak bergeser menjadi ajang saling tuding antarpihak.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Peran Masyarakat
Menghadapi ancaman El Nino yang kian menantang, kolaborasi lintas sektor harus dikedepankan, khususnya dalam operasi pemadaman dan pencegahan meluasnya kobaran api. Sadino mendorong optimalisasi sarana dan prasarana yang dimiliki perusahaan perkebunan untuk bahu-membahu bersama sumber daya manusia dari pemerintah pusat dan daerah.
"Kerja sama pemadaman dan mengurangi meluasnya lahan terbakar diperlukan gotong royong semua pihak," tegasnya, sembari menambahkan bahwa penerapan teknologi modifikasi cuaca juga dapat dikerahkan jika situasi mendesak.
Selain sinergi korporasi dan pemerintah, penguatan di tingkat akar rumput juga menjadi kunci. Kelompok-kelompok masyarakat peduli api di wilayah rawan bencana harus kembali diaktifkan. Dengan skema ini, mitigasi karhutla tidak lagi bersifat reaktif menunggu api membesar, melainkan terbangun secara sistemik mulai dari tahap pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan cepat di lapangan.
Sumber: news.republika.co.id














