• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Ancaman Ganoderma Bayangi PSR, Mitra Sukses Agrindo Andalkan Trichoderma dan Mikoriza

Palembang, SAWIT INDONESIA — Serangan jamur Ganoderma masih membayangi Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Penyakit busuk pangkal batang ini menekan populasi tanaman dan memangkas produktivitas kebun rakyat hingga 30%.

Direktur PT Mitra Sukses Agrindo Awang Suwarnoto mengatakan banyak kebun gagal mencapai target produksi bukan karena bibit semata, melainkan lemahnya pengendalian penyakit sejak awal.

“Petani sering tidak sadar tanamannya terserang. Saat terlihat, populasinya sudah turun,” ujarnya dalam Workshop PSR dan Pekan Benih Sawit 2026 sesi II bertajuk Kisah Sukses PSR dan Penggunaan Bibit Bersertifikat di Palembang, Kamis (12 Februari 2026).

Ia menghitung, tingkat serangan 30% di lahan 10.000 hektare bisa memicu kerugian hingga Rp252 miliar. Secara tahunan, potensi kehilangan produksi mencapai sekitar Rp40 miliar. Pada skala koperasi 1.000 hektare, kerugian bisa menembus Rp5 miliar per tahun.

Serangan meningkat seiring umur tanaman. Di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara, kebun generasi ketiga dan keempat menyisakan 80–90 pohon per hektare. Tanah berpasir seperti di Kepulauan Bangka Belitung juga lebih rentan.

Kesehatan tanah jadi kunci

Awang menegaskan keberhasilan PSR bertumpu pada empat faktor: bibit, pupuk, populasi tanaman, dan kesehatan tanah.

“Tanah fondasi utama. Kalau mikroorganismenya sehat, tanaman lebih tahan Ganoderma,” katanya.

Kondisi ini mendorong permintaan produk pengendalian hayati. Perusahaan yang berbasis produksi di Bogor itu mengembangkan biofungisida berbasis Trichoderma serta pupuk hayati berbasis mikoriza untuk memperkuat akar dan menekan infeksi patogen.

Biofungisida tersebut bekerja sebagai antagonis jamur, sementara mikoriza meningkatkan penyerapan hara sekaligus daya tahan tanaman. Kedua lini ini menjadi produk dengan permintaan tertinggi dari petani dan koperasi.

“Pendekatannya pencegahan. Kita perkuat imunitas kebun sejak awal,” ujarnya.

Produk tersebut telah melewati uji efikasi di lembaga riset tropis regional. Hasilnya melampaui standar minimal industri 50%.

Menurut Awang, percepatan PSR membuka peluang bagi industri input pertanian berbasis hayati. Peremajaan, kata dia, tak cukup hanya mengganti tanaman, tetapi juga memperbaiki ekosistem tanah.

“Kalau tanah sehat, produksi ikut naik,” katanya.

Artikel Terkait