• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

ALB dan Rendemen Jadi Isu Penting, AKPY, BPDP dan Ditjenbun Dorong Pekebun Mukomuko Jaga Kualitas TBS

Bengkulu, SAWIT INDONESIA – Pelatihan teknis panen dan pascapanen program pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), mendorong pekebun Kabupaten Mukomuko menjaga kualitas tandan buah segar (TBS) sejak panen hingga sampai ke pabrik.

Upaya tersebut penting karena kualitas TBS dan rendemen minyak sawit tidak hanya ditentukan di pabrik. Kualitas sudah mulai dibentuk dari kebun, terutama melalui ketepatan panen, penanganan buah, dan kecepatan pengangkutan.

Keterlambatan dan penanganan TBS yang tidak tepat dapat menurunkan mutu dan mempercepat peningkatan asam lemak bebas (ALB). Sebab itu, disiplin panen dan pascapanen menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas bahan baku sekaligus mendukung rendemen minyak.

Pelatihan berlangsung di Bengkulu pada 27 Agustus–1 September 2026 dan diikuti 156 pekebun dari Kabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara. Dari jumlah tersebut, 29 pekebun Kabupaten Mukomuko mengikuti Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen, sementara 47 pekebun Mukomuko mengikuti pelatihan teknis budidaya dan 80 pekebun Bengkulu Utara mengikuti pelatihan teknis budidaya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko, Hari Mustaman, S.P., M.P., mengatakan rendemen merupakan hasil dari rangkaian pengelolaan yang dimulai dari kebun hingga pengolahan.

Faktor rendemen itu dilihat dari mulai dari penyiapan bibitnya sampai dengan pengolahan dan penanganan pascapanen. Itu satu rangkaian,” ujarnya.

Rendemen Sawit Rakyat Masih Tertinggal

Hari menyebut rendemen TBS kebun rakyat di Mukomuko masih berada pada kisaran 16–19 persen, sedangkan kebun perusahaan mencapai sekitar 22–23 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya perbaikan pengelolaan sawit rakyat, termasuk pada tahap panen dan pascapanen. Mukomuko memiliki sekitar 108 ribu hektare sawit rakyat dan sektor pertanian menyumbang sekitar 48,9 persen terhadap PDRB daerah.

Oleh karena itu, peningkatan rendemen tidak hanya berkaitan dengan produksi minyak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi sawit yang dihasilkan pekebun.

Menurut Hari, peningkatan rendemen harus dilakukan secara terintegrasi karena setiap tahapan pengelolaan kebun saling berkaitan.

Kegiatan pertanian atau kegiatan perkebunan ini dari hulu sampai ke hilir merupakan satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, S.Pt., M.P., mengatakan kualitas TBS terbentuk sejak budidaya, pemeliharaan tanaman, penentuan matang panen hingga penanganan setelah dipanen.

Dengan tujuan menghasilkan TBS yang memiliki kualitas baik akan memperoleh harga yang baik pula,” katanya.

Sebab itu, panen bukan sekadar memotong tandan. Pekebun perlu memahami kriteria matang panen, menangani buah dengan tepat, dan memastikan TBS segera ditangani agar kualitasnya tetap terjaga.

Bagi 29 pekebun Mukomuko yang mengikuti pelatihan teknis panen dan pascapanen, pemahaman tersebut menjadi bekal untuk memperbaiki pengelolaan TBS sejak buah siap dipanen hingga sebelum masuk ke pabrik.

Dari Teori ke Lapangan

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan pengalaman merupakan modal penting bagi pekebun. Namun, pengalaman perlu diperkuat dengan data, teori, dan praktik teknis agar keputusan di lapangan semakin tepat.

Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujar Idum.

Menurutnya, pelatihan SDMP bukan untuk menggantikan pengalaman pekebun, tetapi memperkuat kemampuan mereka dalam mengambil keputusan di lapangan. Perpaduan pengalaman, data, teori, dan praktik diharapkan meningkatkan efektivitas pengelolaan kebun, produksi, dan keuntungan.

Pembelajaran juga diperkuat melalui kunjungan lapangan ke PT Bumi Raflesia Indah pada Senin (31 Agustus 2026, sehingga peserta dapat melihat langsung praktik pengelolaan perkebunan dan membandingkannya dengan materi pelatihan.

Hari meminta peserta memadukan teori dengan pengalaman lapangan dan menerapkannya di kebun masing-masing.

Pengalaman lapangan silakan di-sounding-kan dengan teori dan lain sebagainya sehingga nantinya pelatihan ini bisa benar-benar memberikan output yang bagus,” ujarnya.

Maka, persoalan ALB dan rendemen tidak semestinya hanya menjadi urusan pabrik atau pengepul. Pekebun memiliki peran penting sejak buah dipanen, dikumpulkan, ditangani, hingga diangkut.

Penerapan disiplin panen dan pascapanen diharapkan mampu menjaga mutu TBS, mendukung peningkatan rendemen, serta meningkatkan nilai hasil kebun dan kesejahteraan pekebun.

Artikel Terkait