Pekanbaru-Riau, SAWIT INDONESIA — Ajang Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) & Conference 2026 menjadi etalase bagi beragam teknologi industri kelapa sawit, mulai dari mesin dan alat berat hingga peralatan panen yang digunakan langsung oleh pekebun. Salah satu exhibitor asal Malaysia, Chong Lek Engineering Works Sdn Bhd, mencatat tingginya minat pengunjung dengan menjual habis 200 unit produknya dalam dua hari.
General Manager Chong Lek Engineering Works Sdn Bhd, Pong Chung Kuan mengatakan produk yang dibawa ke SIEXPO 2026 di SKA Coex, Pekanbaru, Riau, habis terjual sebelum pameran berakhir.
“Kita bawa 200 unit, semua habis dalam dua hari,” ujar Pong saat ditemui di sela-sela SIEXPO 2026, Jumat (7 Agustus 2026).
Karena seluruh produk yang dibawa telah habis, Chong Lek hanya mengikuti pameran selama dua hari dan tidak membuka stan pada hari ketiga penyelenggaraan SIEXPO 2026. SIEXPO 2026 sendiri berlangsung pada 6-8 Agustus 2026. Perusahaan tersebut memanfaatkan pameran untuk memperkuat pasar Indonesia, khususnya dengan menyasar pekebun sawit sebagai pengguna langsung produk.
Produk yang dibawa Chong Lek mencakup berbagai peralatan panen, seperti egrek (harvesting sickle), dodos (harvesting chisel), serta batu asah. Untuk egrek, perusahaan menawarkan beberapa varian, termasuk fixed sickle, adjustable sickle, dan seri PalmOne FLEX Sickle.
Sementara itu, dodos tersedia dalam beberapa pilihan ukuran, mulai dari 3 hingga 6 inci, untuk menyesuaikan kebutuhan panen pada tanaman sawit yang masih relatif muda.
Menurut Pong, karakter produk yang relatif kecil dan dapat dibeli secara satuan menjadi salah satu keunggulan Chong Lek dalam menjangkau pekebun.
“Alat-alat kita relatif lebih kecil. Apalagi kita bisa menyediakan satuan. Beda misalnya kalau di Jakarta, perusahaan akan beli dalam jumlah banyak,” jelasnya.
Harga Khusus Pameran
Untuk menarik minat pengunjung, Chong Lek memberikan harga khusus selama SIEXPO 2026. Pong mengatakan harga normal produk yang ditawarkan di Indonesia berada di kisaran RM100 atau sekitar Rp400.000 per unit.
Selama pameran, harga tersebut dipangkas menjadi sekitar RM80 atau Rp320.000 per unit, dengan asumsi kurs RM1 sekitar Rp4.000.
Menurut Pong, strategi harga khusus tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen Indonesia.
Chong Lek telah memiliki agen di Pekanbaru, sementara kantor pusat perusahaan berada di Malaysia. Indonesia menjadi salah satu pasar yang terus dibidik perusahaan seiring besarnya industri kelapa sawit nasional.
Pong mengatakan Chong Lek secara rutin mengikuti pameran di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Medan, Bali, Jakarta dan Kalimantan, serta pameran di Malaysia.
Menurutnya, karakter pembeli di setiap wilayah berbeda. Pameran di Jakarta cenderung mempertemukan Chong Lek dengan perusahaan yang melakukan pembelian dalam jumlah besar. Sebaliknya, pameran di daerah sentra sawit memberikan peluang lebih besar untuk menjangkau pekebun yang membutuhkan produk secara satuan.
“Di SIEXPO ini salah satu yang paling laris produk kita, terutama bagi petani sawit,” katanya.
Pong menilai permintaan terhadap peralatan panen masih terbuka lebar, terutama di wilayah yang menjadi sentra perkebunan rakyat. Hal ini memberikan ruang bagi produsen alat panen untuk memperluas pasar seiring kebutuhan peningkatan produktivitas perkebunan sawit.






