• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

AKPY: Tanah yang Sehat Merupakan Investasi Jangka Panjang bagi Produktivitas Sawit Rakyat

Balikpapan, SAWIT INDONESIA – Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat pada masa depan tidak cukup hanya ditopang oleh penggunaan bibit unggul dan pemupukan yang intensif. Lebih dari itu, kesehatan tanah menjadi investasi jangka panjang yang menentukan keberlanjutan produksi, efisiensi biaya, hingga kesejahteraan pekebun.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., saat membuka Pelatihan Petani Sawit ‘Kelas Panen dan Pascapanen’ Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Jum’at (17 Juli 2026).

Menurut Dr. Idum, masih banyak pekebun yang memandang pemupukan hanya sebatas penambahan unsur hara melalui pupuk kimia. Padahal, menjaga kesehatan tanah merupakan fondasi utama agar tanaman mampu berproduksi secara optimal dalam jangka panjang sekaligus memenuhi prinsip perkebunan berkelanjutan.

"Pemupukan ini juga masih perlu kita pahami bersama bahwa tanah yang sehat itu sangat penting bagi keberlangsungan sawit kita. Apakah hanya diperlukan pupuk dari bahan kimiawi? Saya rasa kita sudah mulai harus bergeser juga karena kita harus berkelanjutan," ujarnya.

Ia menjelaskan, perubahan pola pengelolaan lahan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Tanah yang terjaga kualitas fisik, kimia, dan biologinya akan mendukung pertumbuhan tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, serta menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang. Sebaliknya, degradasi tanah akan berdampak pada menurunnya hasil panen dan meningkatnya biaya produksi.

Karena itu, menurut Dr. Idum, penerapan praktik budidaya yang berkelanjutan harus menjadi bagian dari budaya baru pekebun sawit Indonesia. Selain pengelolaan tanah yang baik, pemeliharaan tanaman, kualitas panen, dan penanganan pascapanen juga harus terus ditingkatkan agar produktivitas kebun rakyat mampu bersaing.

Ia mengingatkan bahwa perkebunan sawit rakyat saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Mulai dari tanaman yang memasuki usia tua dan membutuhkan peremajaan, perubahan iklim yang memicu kekeringan maupun banjir, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga tuntutan pasar internasional terhadap produk sawit yang ramah lingkungan dan memiliki ketelusuran yang baik.

Dalam kondisi tersebut, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor yang sama pentingnya dengan penggunaan teknologi dan sarana produksi. Menurutnya, keberhasilan industri sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk, tetapi juga oleh kemampuan pekebun mengelola kebun secara profesional.

"Karena itu sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul, pupuk, tapi juga SDM yang unggul," tegasnya.

Idum menambahkan, kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang menopang perekonomian nasional dan menghasilkan berbagai produk yang digunakan masyarakat setiap hari. Namun besarnya kontribusi tersebut juga diiringi tantangan berupa kampanye negatif terhadap sawit di pasar global. Oleh sebab itu, praktik budidaya yang memperhatikan aspek lingkungan menjadi semakin penting untuk memperkuat daya saing sawit Indonesia.

Pelatihan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan yang bertujuan meningkatkan kompetensi pekebun melalui berbagai materi, mulai dari budidaya, panen dan pascapanen, pemetaan, sarana dan prasarana, hingga penguatan kelembagaan.

Khusus pada pelatihan panen dan pascapanen di Balikpapan, peserta dibekali teknik panen sesuai standar, pengumpulan brondolan, serta percepatan pengiriman tandan buah segar (TBS) ke pabrik. Penerapan praktik tersebut diyakini mampu meningkatkan mutu buah, rendemen minyak, sekaligus memberikan nilai tambah terhadap pendapatan pekebun.

Menutup sambutannya, Idum mengajak seluruh peserta untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi maupun tuntutan keberlanjutan.

"Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman, tetapi petani yang mau belajar, memahami teknologi, mencatat usahanya dengan baik, dan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam mengelola kebun. Jika itu dilakukan, produktivitas meningkat, pendapatan bertambah, dan kesejahteraan keluarga pekebun akan semakin baik," pungkasnya.

Artikel Terkait