• Senin, 12 Oktober 2026
Kinerja

AKPY-BPDP-Ditjenbun Perkuat SDM Pekebun Barito Utara untuk Pacu Produktivitas Sawit

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit menjadi ruang bagi 171 peserta untuk memperbarui pengetahuan, melihat praktik perkebunan skala besar, dan membawa pulang teknologi serta tata kelola yang relevan bagi kebun rakyat.

Produktivitas sawit rakyat tidak selalu berawal dari penambahan luas lahan. Di tengah tantangan perubahan iklim, kualitas bahan tanam, pemupukan, hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) justru menjadi salah satu kunci untuk mendorong produktivitas kebun secara berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diikuti 171 peserta dari Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Mayoritas peserta merupakan pekebun, sementara enam lainnya berasal dari unsur aparatur sipil negara (ASN).

Pelatihan yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 ini diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., menilai peningkatan kompetensi pekebun menjadi kebutuhan mendesak karena produktivitas sawit rakyat masih menghadapi berbagai persoalan.

“Dari sisi produktivitas masih rendah, mau tidak mau harus diakui seperti itu,” kata Idum, Senin (10 Agustus 2026), di Palangka Raya.

Menurutnya, tantangan produktivitas tidak dapat dilepaskan dari kemampuan pekebun dalam mengambil keputusan teknis di kebun. Perubahan iklim, misalnya, membawa konsekuensi terhadap ketersediaan air dan perkembangan OPT. Ancaman El Nino dan kekeringan perlu diantisipasi dengan strategi budidaya yang tepat.

Persoalan lain adalah pemupukan dan bahan tanam. Pekebun perlu memahami kebutuhan nutrisi tanaman dan tidak melakukan penghematan pupuk secara berlebihan. Begitu pula dengan benih, kualitas dan sumber bahan tanam harus menjadi perhatian sejak awal.

“Salah satu yang paling penting adalah bahan tanam. Sekali kita salah, 25 tahun kita akan merana,” tegas Idum.

Pelatihan SDMP 2026 tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan teknis, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang pekebun dalam mengelola kebun.

Pengalaman bertahun-tahun di lapangan tetap menjadi modal penting. Namun, pengalaman tersebut perlu dipadukan dengan ilmu pengetahuan, kajian ilmiah, dan data agar keputusan budidaya lebih tepat.

“Petani tidak hanya belajar dari pengalaman saja, tetapi juga perlu melakukan teknis budidaya sesuai kajian ilmiah berdasarkan data,” ujar Idum.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pekebun bukan hanya luas kepemilikan lahan. Kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan berinovasi menjadi modal penting untuk meningkatkan produktivitas.

Oleh karena itu, peserta mendapatkan pembelajaran mulai dari aspek pembangunan kebun hingga pemeliharaan tanaman. Pembelajaran di ruang kelas kemudian diperkuat dengan praktik lapangan dan kunjungan ke perkebunan skala besar.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena peserta tidak hanya menerima teori, tetapi dapat melihat bagaimana prinsip-prinsip budidaya diterapkan dalam pengelolaan kebun secara nyata.

Belajar dari kebun BGA

Transfer pengetahuan kemudian berlanjut melalui field trip ke PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Region 3 Pundu, Kamis (13 Agustus 2026).

Di lokasi tersebut, 171 peserta mempelajari pengelolaan perkebunan secara lebih utuh, mulai dari pembibitan (nursery), tanaman belum menghasilkan (TBM), replanting, hingga tanaman menghasilkan (TM).

Bagi peserta, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk membandingkan materi yang diperoleh selama pelatihan dengan praktik langsung di lapangan.

Region Head 3 Pundu PT BGA, Lavin Dwi Saputra, mengatakan field trip bukan sekadar kunjungan, melainkan ruang untuk membangun pertukaran pengetahuan antara perusahaan, lembaga pendidikan atau pelatihan, dan pekebun.

“Perjalanan Bapak Ibu dari Palangka ke sini bukanlah perjalanan yang sia-sia. Ini adalah perjalanan ilmu. Kita sama-sama belajar, kami sharing, kemudian kami juga menerima feedback dari para petani,” ujarnya.

Salah satu perhatian peserta tertuju pada pengelolaan tanaman menghasilkan (TM) 1. Lavin menyampaikan, BGA memproyeksikan produktivitas mencapai 24 ton TBS per hektare pada usia tiga tahun.

“TM 1 itu proyeksi kami bisa yield-nya 24 ton per hektare usia tiga tahun,” katanya.

Angka tersebut menjadi pemantik diskusi peserta mengenai faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas, mulai dari kualitas bahan tanam, pengelolaan pembibitan, pemeliharaan TBM, pemupukan, hingga tata kelola tanaman menghasilkan.

Field trip pelajaran untuk kebun rakyat

Idum menjelaskan, BGA dipilih sebagai lokasi field trip karena memiliki rangkaian pembelajaran yang relatif lengkap.

“BGA itu kebun yang komplit. Kebun yang komplit dan tim jajarannya juga selalu siap memberikan yang terbaik untuk mendapatkan ilmu yang lebih,” ujarnya.

Namun, menurut Idum, tujuan kunjungan bukan untuk membuat pekebun meniru seluruh sistem perkebunan perusahaan. Yang lebih penting adalah menemukan praktik-praktik yang relevan dan dapat disesuaikan dengan kondisi kebun rakyat.

“Hari ini kita studi banding untuk melihat skala besar, skala makro, apa saja yang sudah dilakukan oleh kebun dan bagaimana supaya peserta ini bisa membawa ilmu itu untuk diterapkan di kebunnya masing-masing,” katanya.

Field trip menjadi jembatan antara pengetahuan dan praktik. Pekebun dapat melihat bahwa produktivitas bukanlah hasil dari satu faktor, melainkan akumulasi dari keputusan yang tepat sejak memilih bahan tanam, pembibitan, pemeliharaan, replanting, pemupukan hingga pengelolaan tanaman menghasilkan.

Lavin menambahkan, keberlanjutan industri sawit membutuhkan sinergi tiga unsur, yakni perusahaan, lembaga pendidikan atau pelatihan, dan pekebun swadaya.

“Ketiga unsur ini kalau bersinergi dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada jika berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Pentingnya penguatan SDM juga mendapat perhatian dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barito Utara, Adi Haryadi, S.Pi., M.Si.

Ia menilai sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Barito Utara. Namun, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan membutuhkan perubahan cara kerja.

“Untuk mencapai produktivitas yang optimal dan berkelanjutan, kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama secara konvensional,” katanya.

Adi meminta 171 peserta memanfaatkan pelatihan sebagai kesempatan untuk memperbarui pengetahuan sekaligus mencari solusi atas persoalan yang dihadapi di kebun. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi diteruskan kepada kelompok tani dan masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Keberhasilan pembangunan perkebunan di Barito Utara berada di tangan SDM yang terampil, mandiri, dan terus berinovasi,” ujar Adi.

Pada akhirnya, investasi pada SDM menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan produktivitas sawit rakyat. Pekebun yang memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis lebih baik akan lebih siap menghadapi perubahan iklim, memilih bahan tanam berkualitas, melakukan pemupukan secara tepat, mengendalikan OPT, serta mengambil keputusan budidaya berdasarkan ilmu dan data.

Bagi pekebun Barito Utara, pembelajaran dari pelatihan dan field trip ke BGA diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat. Pengetahuan tersebut perlu dibawa pulang, diuji, dan disesuaikan dengan kondisi kebun masing-masing.

Artikel Terkait