Balikpapan, SAWIT INDONESIA – Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat di Kabupaten Paser masih memiliki peluang besar untuk ditingkatkan. Namun, peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman petani, melainkan harus didukung penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penguasaan teknik budidaya yang benar, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pesan tersebut menjadi bagian dari Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan 1–10 yang diikuti 298 pekebun Kabupaten Paser pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) Kelapa Sawit 2026 yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, S.P., M.Si., mengatakan pelatihan menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Menurutnya, rata-rata produktivitas kebun sawit di Paser masih di bawah 20 ton TBS per hektare per tahun, padahal dengan penerapan budidaya yang baik produktivitas di atas 30 ton per hektare per tahun sangat memungkinkan dicapai.
"Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus diterapkan ketika kembali ke kebun, mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penyemprotan hingga perawatan tanaman," tegasnya, pada Senin (3 Agustus 2026), di Balikpapan.
Djoko menambahkan, keberhasilan usaha perkebunan tidak hanya ditentukan oleh produksi TBS, tetapi juga rendemen minyak. Saat ini rendemen sawit di Kabupaten Paser masih berada di bawah 25 persen, sementara rendemen yang baik berkisar 25–32 persen.
Sementara itu, Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., menegaskan pengalaman petani perlu diperkuat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan praktik budidaya berbasis data agar pengelolaan kebun menjadi lebih efektif dan efisien.
"Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu petani memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah," ujarnya.
Menurut Dr. Idum, peserta dibekali materi mengenai penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), penggunaan pestisida secara bijak, hingga menjaga serangga penyerbuk sebagai bagian penting ekosistem kebun. Selama pelatihan, peserta juga mengikuti praktik lapangan dan kunjungan ke perkebunan PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN) untuk melihat langsung penerapan GAP di tingkat perusahaan.
Ia menegaskan bahwa penerapan GAP secara konsisten akan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi sehingga produktivitas TBS dapat meningkat tanpa harus membuka lahan baru.
"Tujuan akhirnya adalah kebun yang lebih produktif, biaya budidaya lebih efisien, dan hasil panen yang semakin baik," katanya.
Pelatihan ini merupakan lanjutan dari pelatihan panen dan pascapanen yang sebelumnya telah dilaksanakan. AKPY mencatat antusiasme pekebun Paser menjadi yang terbesar dibandingkan daerah lain dengan penyelenggaraan 10 kelas pelatihan budidaya setelah sebelumnya lima kelas pelatihan panen dan pascapanen.
Djoko juga memaparkan perkembangan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Paser yang telah mencapai 7.879 hektare dan diperkirakan segera menembus 8.000 hektare. Ia menyebut bantuan hibah PSR dari BPDP kini mencapai Rp60 juta per hektare sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Pada kesempatan tersebut, Djoko mengapresiasi BPDP, Ditjenbun, dan AKPY yang pada tahun ini telah memfasilitasi pelatihan bagi 556 pekebun asal Kabupaten Paser. Ia berharap semakin banyak petani memperoleh pelatihan sehingga mampu menerapkan GAP secara konsisten.
Senada dengan itu, Dr. Idum berharap peserta tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi petani lainnya.
"Petani yang hebat adalah petani yang selalu mau belajar karena dunia terus berkembang. Kami berharap peserta semakin mantap mengelola kebun berdasarkan ilmu pengetahuan dan mampu menjadi petani sawit yang unggul, mandiri, profesional, dan berdaya saing," pungkasnya.














