• Rabu, 23 September 2026
Berita Terbaru

Ahli: Produktivitas Sawit Bukan Ditentukan Banyaknya Pupuk, tetapi Ketepatan Pemberiannya

Jakarta, SAWIT INDONESIA – Produktivitas kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih atau kondisi lahan. Pengelolaan nutrisi tanaman melalui pemupukan yang tepat justru menjadi faktor yang paling bisa dikendalikan untuk meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi.

Hal tersebut disampaikan Direktur AKPY-STIPER sekaligus praktisi Smart Plantation dan nutrisi tanaman sawit, Dr. Sri Gunawan, dalam webinar bertajuk Integrasi Teknologi Presisi untuk Optimalisasi Unsur Hara & Produktivitas Kelapa Sawit, Senin (24 Juni 2026).

Menurut Sri Gunawan, produktivitas kelapa sawit merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari genetik tanaman, kondisi lahan, iklim, hingga penerapan kultur teknis dan manajemen panen. Namun, dari seluruh faktor tersebut, pemupukan menjadi aspek yang paling mudah dikendalikan oleh perusahaan maupun pekebun.

"Pemupukan yang tepat bukan hanya menjaga keseimbangan unsur hara, tetapi juga meningkatkan kesehatan tanaman, memperbaiki kualitas produksi, sekaligus membuat biaya operasional lebih efisien," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa biaya pemupukan menyumbang sekitar 50–70 persen dari total biaya operasional (operational expenditure/OpEx) dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Sayangnya, sebagian besar biaya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena banyak unsur hara hilang sebelum sempat diserap tanaman.

"Kebocoran finansial terbesar sebenarnya ada di dalam tanah. Unsur hara bisa hilang karena penguapan, terbawa aliran air permukaan (run-off), maupun tercuci ke lapisan tanah yang lebih dalam (leaching)," jelasnya.

Sri Gunawan memperkirakan kehilangan unsur hara dapat mencapai 30–70 persen, sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian jutaan rupiah per hektare apabila pengelolaan tanah dan waktu pemupukan tidak dilakukan secara tepat.

Menurutnya, waktu aplikasi pupuk menjadi faktor yang sangat menentukan. Pemupukan yang dilakukan saat curah hujan tinggi berisiko membuat pupuk hanyut atau menguap sehingga efektivitasnya menurun.

"Jangan hanya berpatokan pada jadwal. Kalau hujan deras terus, pupuk bisa terbuang sia-sia. Karena itu, pemupukan harus memperhatikan kondisi lapangan," katanya.

Sri Gunawan juga mengingatkan agar perusahaan maupun pekebun tidak menghentikan pemupukan hanya karena harga tandan buah segar (TBS) sedang turun. Sebab, dampak pemupukan terhadap produksi tidak terjadi secara instan.

"Produksi sawit hari ini ditentukan sekitar 24 bulan sebelumnya. Kalau pemupukan dihentikan sekarang, dampaknya baru terasa dua tahun ke depan dalam bentuk penurunan produksi," ujarnya.

Ia mencontohkan, kebun yang tidak dipupuk selama empat tahun pertama dapat kehilangan produksi hingga sekitar 13 ton per hektare. Selain itu, cadangan unsur hara di dalam tanah akan terus berkurang sehingga pertumbuhan akar, daun, dan pembentukan buah menjadi tidak optimal. Proses pemulihan tanaman pun membutuhkan waktu yang cukup lama.

Karena itu, ia menegaskan bahwa pemupukan harus dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis kebutuhan tanaman, bukan sekadar mengikuti kebiasaan.

Menurut Sri Gunawan, pendekatan konvensional dalam pengelolaan kebun sudah saatnya beralih menuju precision plantation atau perkebunan presisi yang memanfaatkan teknologi digital.

Ia menjelaskan bahwa pemupukan seharusnya didasarkan pada data, seperti hasil analisis tanah, analisis daun, data produksi, serta monitoring kondisi tanaman di lapangan. Teknologi seperti drone, sensor tanah, Geographic Information System (GIS), hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu mendeteksi gejala kekurangan unsur hara lebih dini sehingga tindakan perbaikan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

"Tanaman yang sehat bukan karena dipupuk banyak, tetapi karena dipupuk dengan tepat. Nutrisi yang presisi akan menghasilkan sawit yang produktif, efisien, dan berkelanjutan," tegasnya.

Sri Gunawan menambahkan, penerapan teknologi presisi tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu perusahaan menghemat penggunaan pupuk, menurunkan biaya produksi per ton, serta meningkatkan keuntungan usaha secara berkelanjutan.

Ia berharap transformasi menuju smart plantation semakin banyak diterapkan di perkebunan kelapa sawit Indonesia agar produktivitas dapat terus meningkat di tengah tantangan kenaikan biaya produksi dan keterbatasan tenaga kerja.

Artikel Terkait