Jakarta, SAWIT INDONESIA – Nama Martias Fangiono dan Martua Sitorus menjadi trending topik beberapa hari ini, setelah keduanya terlihat dalam seremoni penanaman tebu perdana di lahan PT Global Papua Abadi, Merauke pada akhir Juli 2024.
Penanaman tebu tersebut masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) pemerintah dengan total lahan seluas 2,29 juta hektare di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Martias juga dikenal sebagai bos Surya Dumai Grup (SDG) dengan fokus bisnis dan kehutanan dan kelapa sawit. Sedangkan, anak-anak Martias seperti Ciliandra Fangiono dan Fang Zhixiang (Sigih Fangiono) mengikuti jejak ayahnya di bisnis sawit lewat First Resources.
Sementara Martus Sitorus, setelah mundur dari Wilmar Group sekarang mengembangkan lini bisnisnya melalui KPN Corp. Perusahaan yang berdiri pada 2019 ini memiliki lini bisnis sawit dan non sawit seperti properti, semen, dan rumah sakit.
Megaproyek pembangunan kebun tebu dan pabrik bioetanol ini menjadi sorotan karena Presiden Jokowi pernah menghadiri agenda tanam tebu perdana di dalam konsesi PT Global Papua Abadi di Kampung Sermayam Indah, Distrik Tanah Miring pada 23 Juli 2024. Saat itu, Jokowi didampingi oleh sejumlah pihak.
Dari data Kementerian BKPM, progres lapangan penyiapan perkebunan tebu terintegrasi Proyek Strategis Nasional (PSN) pada Klaster 3 mencakup 600 ha lahan Siap Tanam, 1.500 ha proses land clearing, serta pembangunan infrastruktur jalan dan mekanisasi. PT Global Papua Abadi, salah satu badan usaha di kawasan tersebut, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) dan kerja sama dengan Sugar Research Australia (SRA) dalam penyediaan bibit unggul dari dalam negeri.
Selain PT Global Papua Abadi, terdapat 8 perusahaan lain yang mengelola lahan seluas 633.763 hektare (ha), pengembangan Klaster 3 untuk lahan perkebunan tebu terintegrasi PSN.
Tampak Martias Fangiono (menggunakan kacamata) menghadiri penanaman tebu PT Global Papua Abadi di Merauke pada Juli 2024.Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi menjelaskan kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam menjawab krisis pangan global yang dipicu oleh perubahan iklim yang ekstrem.
“Ya ini kita tahu dunia sekarang sedang krisis pangan karena perubahan iklim, panas yang panjang, kering yang panjang, gelombang panas, dan kemandirian pangan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan itu harus menjadi konsentrasi,” ujar Presiden dalam keterangannya kepada awak media usai penanaman.
“Di sini sudah dicoba, tidak hanya sekali dua kali tapi tidak berhasil. Tapi yang sekarang menurut saya kalau tadi saya melihat mulai dari awal pembibitan dengan tissue culture, penanaman beberapa varietas, hasilnya juga kelihatan sudah dicek berapa ton semuanya sudah secara saintifik sudah dijalani,” ungkap Presiden.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara juga meninjau sejumlah fasilitas dan sarana prasarana yang ada di perusahaan tersebut, di antaranya laboratorium kultur jaringan, pembibitan tebu, perkebunan tebu, hingga persemaian tanaman konservasi. Presiden pun optimistis menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan di kawasan Merauke dan sekitarnya, dengan potensi produksi seperti padi, jagung, dan tebu untuk gula pasir dan bioetanol.
Presiden Jokowi juga menyambut positif niat baik perusahaan dalam mengawali upaya merawat lingkungan secara berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan membuat persemaian yang memproduksi bibit maupun tanaman endemik Papua untuk merehabilitasi hutan-hutan yang ada.
“Jadi pangannya dapat, energi hijaunya dapat, tetapi juga hutannya tidak dirusak,” tutur Presiden.














