Yogyakarta, SAWIT INDONESIA - Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-Stiper) lepas mahasiswa program Beasiswa Sawit untuk program magang di perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di berbagai daerah sentra perkebunan kelapa sawit. Pelepasan program magang secara simbolis dilakukan pada, Selasa (20 Juni 2022), di kampus Papringan, Sleman – Yogyakarta.
Sebanyak 330 mahasiswa akan melaksanakan magang di perusahaan perkebunan kelapa sawit. Berikut ini rincian jumlah sebaran mahasiswa AKPY-Stiper pada program magang di perusahaan. PT Astra Agro Lestari sebanyak 75 mahasiswa, PT Best Agro sebanyak 20 mahasiswa, PT Karyamas sebanyak 30 mahasiswa, PT Minamas 26 mahasiswa, PPKS Parindu Manggau 5 mahasiswa, PT Borneo Ketapang Indah sebanyak 20 orang, dan PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) sebanyak 155 mahasiswa. Keberangkatan magang ke perusahaan, diberangkat secara bertahap ke lokasi masing-masing perusahaan, didampingi dosen.
Tercatat, mahasiswa yang melaksanakan program magang selain di PPKS Parindu Manggau, hanya sebatas mengikuti program magang. Selebihnya, selain melaksanakan program magang, mahasiswa tersebut melaksanakan on job training (OJT), di perusahaan.
Kepala Divisi Penyaluran Dana, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Arfie Thahar, mengatakan pihaknya berpesan pada mahasiswa AKPY-Stiper yang akan melaksanakan magang.
“Kalian (mahasiswa) sudah mendapat teori dan praktik mulai dari budidaya hingga panen sawit, selama kurang lebih 9 bulan. Saat untuk proses magang.Untuk kami memberikan insight lain yaitu menyampaikan gambaran besar industri sawit yang berkembang dan mampu berkontribusi besar pada perekonomian nasional,” ujarnya, pada Selasa (20 Juni 2023), saat memberikan kuliah umum pembekalan magang, di kampus AKPY-Stiper, Yogyakarta.
“Bahwa industri sawit adalah industri yang sangat strategis.Untuk itu, pemerintah sangat serius menjaga dan mengembangkan industri sawit kontribusi pada PDB cukup besar dan menopang ekonomi di masa pandemi, saat industri lain terdampak. Untuk itu, pemerintah ingin industri sawit berkelanjutan melalui berbagai program. Salah satunya BPDPKS yang ditugaskan dengan berbagai program salah satunya pengembangan SDM kelapa sawit melalui program Beasiswa Sawit, yang salah satunya ada di AKPY-Stiper,” tambah Arfie.
Menurutnya, bekal yang diberikan pihak kampus untuk program magang sudah cukup. “Kami juga melihat perkembangan mahasiswa AKPY dari pertama kali masuk (perkulian), dengan kegiatan BINTALFISDISBUN, saya kira cukup baik ya. Selain sebagian besar mahasiswa berasal dari anak petani sawit dan pekerjadi sektor sawit. Jadi, ilmu dan pengetahuan sawit saya kira sudah cukup diserap. Terlebih ditambah dengan praktik lapangan atau Learning Factory. jadi, mahasiswa belajarnya tidak abstrak melainkan melihat langsung objek yang nantinya akan dikerjakan ketika terjun di perkebunan sawit,” kata Arfie.
Pesan dari pihak kampus dan yayasan
Sementara, itu Dr. Purwadi Ketua Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), yang menaungi kampus AKPY-Stiper, mengatakan selama hampir 9 bulan, mahasiswa sudah mendapatkan knowledge terkait perkebunan sawit. Dan,skill sudah dilatih dengan BINTALFISDISBUN dan kegiatan Learning Factory.
“Jadi, untuk program magang mahasiswa sudah dibekali, saatnya untuk mengimplementasikan knowlegde dan skill-nya diperusahaan perkebunan, selama tiga bulan. Jadi, program magang ini dianalogikan berlatih di lautan, setalah melewati latihan di danau. Kalau program magang terlewati dengan baik, maka mahasiswa layak dan siap untuk terjun di industri sawit, berbekal pengetahuan dan skill yang dimiliki,” kata Dr Purwadi, saat memberikan sambutan, di Malam Pelepasan Magang mahasiswa AKPY-Stiper.
Selanjutnya, ia mengatakan tentu saja mahasiswa saat menjalani program magang akan menghadapi tantangan. “Untuk itu, kami berpesan berproses dan berkaryalah dengan tertib sesuai SOP yang ada di perusahaan, disiplin dan sabar dalam menerima tantangan. Dengan semangat menjalani kegiatan secara ikhlas. Dengan begitu mahasiswa akan melewati proses magang dengan baik. dan, pada saatnya akan lulus dengan nilai baik sehingga siap untuk berkarya di sektor sawit yang sebenarnya,” tegas Dr. Purwadi.
Menurut Dr. Purwadi, pihaknya menilai semua kegiatan yang ada di AKPY-Stiper dilaksanakan by design dan ada monitoring yang dilakukan secara tertib. “Karena monitoring dilakukan di setiap akhir kegiatan, hal ini untuk mengontrol jika ada kekurangan bisa terus diperbaiki. Jadi, tidak alasan evaluasi di akhir, tetapi monitoring dan evaluasi dilakukan di akhir setiap kegiatan. Agar bisa memastikan proses pembelajaran berjalan dengan baik, kalau prosesnya benar pasti hasilnya baik. "Sekali lagi, saya sampaikan selamat pada mahasiswa yang akan melaksanakan magang, semoga berjalan dengan lancar dan hasilnya optimal," pungkas Dr. Purwadi.
Hal senada juga disampaikan Dr.(Cand), Idum Satia Santi, S.P, M.P, Wakil Direktur AKPY-Stiper mengatakan mahasiswa sudah cukup dibekali ilmu dan pengetahuan mulai dari teknis budidaya tanaman kelapa sawit, sejak awal masuk perkuliahan dengan program BINTALFISDISBUN. “Kemudian, diulang lagi dengan kegiatan praktik lapangan (Learning Factory) yang dilakukan di laboratorium kebun di KP2 Ungaran,” ucapnya, saat ditemui di ujung kegiatan Malam Pelepasan program magang mahasiswa AKPY-Stiper, pada Selasa (20 Juni 2023).
Lebih lanjut, Idum menambahkan yang terpenting adalah membekali mahasiswa dengan penguatan budaya kebun yang senyatanya. Dan survival termasuk penguatan daya juang serta komunikasi. “Secara teori mungkinbisa dipelajari, misalnya bagaimana sikap ketemu dengan atasan dan bawahan. dan adaptasi atau penyesuaian budaya dengan perusahaan dan budaya dengan perorangan karena banyak di pekerja di perusahaan dengan berbagai latar belakang budaya, agama dan pendidikan. Ini yang harusnya ditekankan,” ujarnya.
“Komunikasi harus dijaga dengan baik, karena bertemu dengan banyak orang. Maka perlu ditingkatkan pembelajaran komunikasi, saat proses magang menjadi bagian dari pembelajaran komunikasi. Terlebih mahasiswa AKPY-Stiper nantinya akan menjadi pemimpin di kebun pada level bawah. Sehingga komunikasi harus tetap dijaga dan dilatih, agar pesan yang ingin disampaikan pada bawahan bisa tersampaikan,” imbuh Dr. (Cand) Idum.






