Jakarta, SAWIT INDONESIA – Industri sawit negeri jiran menikmati kenaikan harga CPO sepanjang 2024 sehingga mendongkrak volume dan nilai ekspor. Hal ini disampaikan Plantation and Commodities Minister Datuk Seri Johari Abdul Ghani yang dibacakan Deputy Minister Datuk Chan Foong Hin saat berbicara di Palm Oil Economic Review and Outlook Seminar 2025 di Kuala Lumpur pada 14 Januari 2025.
Dalam penjelasannya, Malaysia menikmati kenaikan ekspor sawit baik dari nilai dan volume. Total ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya meningkat 8,9%, mencapai 26,66 juta ton, naik dari 24,49 juta ton pada tahun sebelumnya.
Selain itu, pendapatan ekspor sawit juga meningkat 15,1% menjadi RM109,3 miliar (setara US miliar) pada tahun 2024 dibandingkan dengan RM94,9 miliar pada tahun 2023.
Peningkatan pendapatan ekspor ini juga ditopang harga rata-rata bulanan CPO mencapai puncaknya di RM5.119,50 per ton pada bulan Desember 2024, dengan harga rata-rata harian mencapai rekor RM5.333,50 per ton pada tanggal 6 Desember 2024.
Malaysia memiliki 6 pasar ekspor utama produk sawitnya sepanjang 2024 adalah India, Cina, Uni Eropa, Kenya, Turki, dan Filipina, yang secara kolektif menyumbang 50,7% dari total ekspor. India tetap menjadi importir tunggal terbesar, yang mencerminkan permintaan yang kuat untuk produk minyak kelapa sawit Malaysia secara global.
Produksi minyak sawit mentah Malaysia tumbuh 4,2% menjadi 19,3 juta ton pada tahun 2024, naik dari 18,55 juta ton pada tahun 2023. Pemerintah Malaysia menyakini prospek industri ini tetap positif, didukung oleh dinamika penawaran dan permintaan yang stabil dan pemulihan yang diantisipasi dari kekurangan tenaga kerja.






