• Sabtu, 19 September 2026
Berita Terbaru

128 Orang Pekebun Rohil, Datang Ke Koperasi Produsen Tunas Muda Untuk Belajar Pembuatan Biochart, Bagian Program Pelatihan Pupuk Organik Dari BPDP

SAWIT INDONESIA - Pada hari kamis pagi tanggal 23 Juli 2026, sebanyak 4 bus + 5 mobil rombongan peserta pelatihan pupuk organik bergerak dari hotel Furaya menuju Koperasi Produsen Tunas Muda di Desa Teluk Merbau, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau. Tujuannya adalah belajar pembuatan biochar. Kunjungan ini merupakan bagian dari pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik, program dari BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan), yang berlansung selama 4 hari pada tanggal 21 – 24 Juli 2026.

Rombongan diterima tim Ketua Koperasi (Bapak Setiyono) dan Sekretaris Koperasi (Bapak Dista Khoesnul A.). Kunjungan lapang difokuskan pada pembuatan dan aplikasi Biochar, yaitu adalah arang hayati kaya karbon yang dibuat dengan membakar limbah organik (janjang kosong atau bahan lainnya) tanpa atau dengan sedikit oksigen (teknik pirolisis).

Sesi pagi hari dilakukan praktek pembuatan biochar. Bahan bakunya janjang kosong dan pelepah atau batang sawit yang dikeringkan dan dipotong kecil – kecil. Bahan baku ini terlebih dahulu dijemur untuk menurunkan kadar airnya. Bahan baku lain bisa dari pelepah sawit, bisa dari cangkang, bisa dari batang cacahan replanting. Sebaiknya menggunakan 1 jenis bahan untuk 1x proses pembakaran, karena waktu bakar dari masing – masing bahan berbeda – beda.

Hidupkan alat pembakar (kontigi). 1x pembakaran butuh waktu 3 jam dengan bahan baku 13 angkong. Hasilnya 80 kg biochar. Pembakaran dilakukan bertahap selapis demi selapis, tidak boleh ditumpuk. Selapis bahan baku yang dimasukkan akan menimbulkan asap yang banyak, bahan baku ini segera dikipas agar muncul lidah api. Jika tidak dikipas, asapnya akan tetap banyak, lidah api lambat terbentuk, sehingga bahan baku keburu berubah jadi abu. Sebaliknya jika dibakar dengan lidah api, bahan bakunya akan berubah menjadi hitam arang biochar. Inilah tujuan kita dalam pembuatan biochar.

Selapis merata terbakar lidah api, akan memunculkan abu putih tanda sudah terbakar sempurna. Begitu muncul abu putih, segera masukkan bahan baku selapis lagi menutup rapat secara merata bahan baku lapis pertama (seperti kondisi kedap udara). Kipas lagi agar segera muncul lidah api dan biarkan sampai terbakar merata. Ulangi proses diatas selapis demi selapis sampai alat pembakar (kontigi) penuh dengan hasil bakaran biochar.

Setelah lapis terakhir selesai terbakar, tumpukan biochar disiram dengan air untuk mematikan lidah api sampai benar – benar padam. Air siraman dapat ditampung dan dimanfaatkan sebagai POC (Pupuk Organik Cair).

Biochar yang sudah dikeringkan bisa dicampur dengan POP (Pupuk Organik Padat) kotoran sapi yang sudah difermentasi dengan perbandingan 1:1. Kemudian disiramkan POC (Pupuk Organik Cair) yang kaya dengan mikroba bermanfaat. Biochar jadi rumah bagi mikroba bermanfaat dan jadi media penaham pupuk (slow release fertilizer) serta bisa menahan air untuk menjaga kelembaban tanah. Aplikasi biochar bisa dengan sistem lubang (pocket) dan bisa dengan sistem larikan (parit kecil).

Setelah sesi lapangan untuk pembuatan biochar, peserta berpindah tempat ke aula serbaguna Graha Laksana. Diruangan aula dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Koperasi Produsen Tunas Muda (Bapak Setiyono), Penghulu atau Kepala Desa Teluk Merbau (Bapak Rudi) dan Penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Siak (Ibu Gusneti). Selanjutnya ada presentasi dengan tema Restorasi Kesuburan Tanah Perkebunan Kelapa Sawit (Sinergi Pemakaian Pupuk Organik dan Biochar untuk Menjaga Produktivitas TBS Jangka Panjang secara Berkelanjutan), oleh Bapak Dista Khoesnul Ardiansyah, S.Sos. Setelah presentasi, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab seputaran biochar dan apa saja yang dilakukan Koperasi ProdusenTunas Muda.

Searah dengan perjalanan pulang, peserta mampir ke kebun sawit milik ketua Koperasi Produsen Tunas Muda (Bapak Setiyono) yang sudah diaplikasi biochar. Peserta bisa melihat langsung hasil aplikasi biochar terhadap pertumbuhan tanaman dan kondisi buah yang ada dipokok sawit. Diskusi dilahan sawit dilanjutkan seputaran teknis perawatan dan pengelolaan yang dilakukan sehingga kebunnya menjadi bagus seperti ini.

Diakhir kegiatan kunjungan lapang, rombongan peserta pelatihan beserta wali kelas dan panitia mohon pamit dan terterima kasih atas kesempatan kunjungan lapang. Semoga ilmu pengetahuan dan pengalaman yang didapat selama kunjungan lapang bisa dipraktekkan oleh peserta ditempat masing – masing, dan menjadi amal jariyah bagi pengurus Koperasi dan pendamping kunjungan lapang.

Artikel Terkait