PALEMBANG, SAWIT INDONESIA –Workshop Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan Pekan Benih Sawit 2026 bertajuk Sukses PSR 2026 Optimalkan Benih Sawit Unggul dan Bersertifikat resmi dibuka di Palembang, Kamis (12 Februari 2026). Kegiatan yang akan berlangsung hingga 13 Februari itu digelar untuk pertama kalinya oleh Majalah Sawit Indonesia dan didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Acara tersebut menekankan pentingnya penggunaan benih sawit unggul dan bersertifikat guna mengoptimalkan produktivitas kebun rakyat.
Sekitar 200 peserta dari kalangan petani, koperasi, pemerintah daerah, dan pelaku industri hadir dalam kegiatan perdana yang digelar Majalah Sawit Indonesia tersebut. Sumatera Selatan dipilih sebagai lokasi pertama karena merupakan salah satu sentra sawit nasional sekaligus daerah dengan realisasi PSR tertinggi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, dalam sambutan daring menyebut PSR sebagai program strategis nasional yang terus menunjukkan kemajuan, meski belum sepenuhnya memenuhi target.
“Realisasi PSR tahun 2025 mencapai sekitar 40 ribu hektare atau 33 persen dari target 120 ribu hektare. Angka ini sedikit lebih baik dibanding 2024 yang sekitar 31 persen atau 38 ribu hektare,” kata Heru.
Ia menambahkan, sejak 2017 hingga 2025, Sumatera Selatan telah merealisasikan PSR seluas 75 ribu hektare, salah satu yang terbesar secara nasional. Pada 2026, pemerintah menargetkan peremajaan 50 ribu hektare secara nasional, dengan alokasi sekitar 5.750 hektare di Sumsel.
“Dengan langkah-langkah perbaikan dan pendampingan, kami optimistis capaian PSR tahun ini bisa meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Acara sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, menilai PSR menjadi kunci peningkatan produksi sawit nasional. Namun, realisasi program masih tertahan berbagai kendala di lapangan.
“Tahun 2025 targetnya 180 ribu hektare, tapi baru terealisasi sekitar 50 ribuan hektare. Padahal, manfaat PSR sangat nyata bagi petani,” kata Qayuum.
Ia mencontohkan KUD Lisa di Ogan Komering Ilir yang memulai PSR sejak 2019. Saat ini, produktivitas kebun mereka meningkat pesat setelah menggunakan benih unggul.
Menurutnya, produktivitas sawit nasional dalam dua tahun terakhir berfluktuasi bahkan cenderung menurun. Selain faktor iklim dan kepastian usaha, penggunaan benih tanpa sertifikat menjadi penyebab utama rendahnya hasil panen.
“Banyak petani dirugikan karena memakai benih palsu. Tanaman tumbuh, tapi produksinya rendah,” tegasnya.
Data menunjukkan pada 2023 beredar sekitar 88 juta kecambah palsu, setara dengan potensi kerugian lahan sekitar 630 ribu hektare. Dengan dana kelolaan BPDP mencapai Rp77,8 triliun, kerugian akibat benih ilegal dinilai signifikan jika tidak segera diatasi.
Qayuum menekankan, penggunaan benih bersertifikat melalui program PSR dapat meningkatkan produktivitas kebun, mencegah peredaran benih palsu, menaikkan kesejahteraan petani, serta memperkuat pasokan sawit domestik.
“Kalau mau sawit tetap jadi komoditas strategis dan kebanggaan nasional, produktivitas harus naik. Kuncinya benih unggul dan tata kelola kebun yang baik,” ujarnya.














