• Senin, 28 September 2026
Berita Terbaru

Wilmar Dampingi 1.500 Petani Swadaya Siak untuk Meraih ISPO

Jakarta, SAWIT INDONESIA –Upaya-upaya pendampingan petani swadaya untuk meraih sertifikat berkelanjutan terus dilakukan Wilmar. Kini, dukungan dan pendampingan dilakukanpada lima koperasi kelapa sawit di Siak, Riau, yang jumlahnya mencapai 1.500 petani swadaya yang tengah berproses untuk meraih sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Kemitraan (red-pendampingan) tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan kemampuannya meraih keberlanjutan.Upaya itu dilakukan melalui pendekatan jurisdiksi (jurisdictional approach) Siak Hijau.

Lansekap Siak Hijau merupakan kolaborasi multi-stakeholder yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak, untuk mewujudkan pembangunan Kabupaten Siak yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu sektor yang menjadi prioritas dalam kolaborasi ini adalah pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis kelapa sawit, dengan mengembangkan perkebunan yang berkelanjutan bagi petani swadaya.

Kolaborasi itu dibentuk sebagai wujud dukungan swasta terhadap pelaksanaan kebijakan lansekap Siak Hijau, khususnya dalam memperkuat koordinasi dan sinergisitas program.

Head Sustainability - Wilmar Indonesia, Pujuh Kurniawan, menjelaskan pihaknya telah mendampingi 1.500 petani swadaya yang mengelola kebun sekitar 2.500 hektare (ha).

“Mereka tergabung dalam lima koperasi petani swadaya. Dari jumlah itu, dua diantaranya telah mengantongi sertifikasi ISPO sejak 2019. Pada awal tahun ini, dua koperasi lainnya sedang dalam proses penyelesaian sertifikasi, dan satu koperasi sedang proses persiapan. Program ini dijalankan bersama PT Permodalan Siak (PERSI), Dinas Derkebunan, dan dinas lain yang terkait,” jelas Pujuh melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi sawitindonesia.com, pada Rabu (13 Maret 2024).

Hal tersebut disampaikannya, dalam Workshop Sinergi Siak Hijau: Kolaborasi Stakeholder untuk mendukung Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di Lanskap Siak Hijau pekan lalu.

Terkait dengan Laneskap Siak Hijau, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Sudarsono Soedomo mengungkapkan, Siak Hijau dapat menjadi model pengelolaan kebun kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi tersebut telah menjadi wadah sinergi bagi para stakeholder untuk meningkatkan kemampuannya dalam meraih sertifikasi keberkelanjutan, terutama bagi petani swadaya.

"Pembeli minyak sawit dunia menuntut produk yang berkelanjutan. Ini penting bagi perusahaan dan petani agar dapat mengikuti tuntutan pasar,” ungkap Sudarsono.

Sementara itu, Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB), Rismansyah Danasaputa, menilai menilai, saat ini petani menyumbang 40 persen dari total produksi tandan buah segar (TBS) sawit nasional. “Sayangnya, mereka masih banyak keterbatasan dalam meraih sertifikasi. Hal itu perlu mendapatkan perhatian semua pihak untuk membantu meningkatkan kemampuan mereka,” katanya.

Perkebunan kelapa sawit adalah salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi di Siak. Luasnya saat ini mencapai 328,8 ribu ha. Dari total luas tersebut, luas kebun yang dikelola petani swadaya mencapai 208.075 ha.

Sebagai informasi, selain di Siak, Wilmar telah melaksanakan program pemberdayaan petani swadaya di beberapa propinsi, yaitu Jambi, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Jumlah pihak (kelompok petani) yang bermitra dan didampingi sebanyak 14 kelompok petani swadaya, dengan total jumlah petani mencapai 5.760 orang dan luas kebun 12.584 ha.

Hingga saat ini sudah ada delapan kelompok petani swadaya yang telah berhasil mengantongi sertifikat ISPO, yang mencakup 8.588 ha kebun dari 3.525 petani swadaya.

Artikel Terkait