Jakarta, SAWIT INDONESIA – PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk tetap mengantisipasi dampak penutupan Selat Hormuz terhadap biaya produksi dan bahan baku.
Dalam keterbukaan informasi, Manajemen Wilmar menguraikan bahwa penutupan Selat Hormuz akan mengakibatkan kenaikan harga minyak bumi.
"Kenaikan tersebut turut mendorong biaya bahan pembantu serta ongkos logistic. Diperkirakan terjadi peningkatan harga bahan baku crude palm oil (CPO) dan palm kernel hingga hampir 10% dibandingkan level sebelumnya," kata manajemen Wilmar dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (18/3/2026).
Terhadap situasi ini, emiten berkode CEKA harus mengalokasikan biaya lebih besar untuk pembelian bahan baku utama maupun pendukung, serta untuk distribusi.
Lebih lanjut, fluktuasi harga energi dan komoditas, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas pasar keuangan dan nilai tukar menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan.
Walaupun tidak memiliki operasional langsung di wilayah konflik, tetap dampak ekonomi yang lebih luas dari gejolak global tersebut dinilai dapat memengaruhi operasi dan kinerja keuangan perseroan.
Dalam penjelasannya, manajemen menyatakan masih terus memonitor perkembangan situasi di Selat Hormuz dan menilai potensi dampaknya terhadap kinerja pada periode pelaporan berikutnya.














