Jakarta, SAWIT INDONESIA - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menegaskan pentingnya pendekatan budidaya sebagai jalan tengah antara konservasi in situ dan ex situ dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Hal ini ia sampaikan dalam peluncuran buku Konservasi Alam di Indonesia dan pengenalan serial Panca Palma karya Petrus Gunarso di Sagulicius, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (22/5/2025).
Menurutnya, budidaya bukan hanya solusi konservasi, tetapi juga menjadi model sukses yang sudah terbukti pada industri kelapa sawit.
"Dulu hanya empat butir sawit ditanam di Kebun Raya Bogor. Dari sana, Indonesia menghasilkan lebih dari 70 varietas unggul, menjadikannya produsen sawit terbesar di dunia," jelas Tungkot.
Ia menilai, langkah Petrus Gunarso yang memperkenalkan lima jenis palma tropis—sawit, aren, sagu, kelapa, dan pinang—adalah terobosan penting dalam membangun masa depan berkelanjutan yang berbasis plasma nutfah lokal.
“Indonesia memang eksportir pinang terbesar, tapi masih mengandalkan hasil hutan liar, belum dari budidaya. Ini PR besar,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tungkot menjelaskan bahwa kelapa sawit memiliki multifungsionalitas luar biasa yang jarang dipahami publik. Dari segi lingkungan, sawit bukan hanya menyerap karbon dioksida secara efektif, tetapi juga menciptakan jutaan biopori di tanah yang menyimpan air dan bahan organik, memperbaiki kualitas tanah secara alami.
"Justru sawit, karena produktivitasnya yang sangat tinggi, menggunakan lahan jauh lebih sedikit dibandingkan tanaman minyak nabati lain seperti kedelai. Dunia tanpa sawit akan memaksa deforestasi jauh lebih masif,” ujarnya.
Tungkot juga menyebut bahwa meskipun Uni Eropa kerap mengkritik industri sawit Indonesia, negara-negara tersebut justru menikmati manfaat ekonomi besar dari produk sawit.
"Mereka olah lagi, diberi nilai tambah, dan dinikmati setiap tahun. Jadi sebetulnya Indonesia membagi kue bagi dunia," ujarnya.
Tak hanya itu, industri sawit global menciptakan lapangan kerja tidak hanya di Indonesia, tapi juga di India, Cina, dan Eropa. "Sawit adalah minyak nabati untuk dunia. Kita ini telah menolong dunia, dan itu fakta."
Menutup sambutannya, Tungkot menyatakan harapannya agar palma tropis lainnya seperti aren, sagu, kelapa, dan pinang juga bisa menjadi solusi pangan dan energi dunia.
"Kita tunggu kontribusi empat palma lainnya. Ini bukan hanya soal tanaman, ini tentang masa depan ekologi dan ekonomi dunia yang lebih adil," tutupnya.














