Palangka Raya, SAWIT INDONESIA — Pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) Tahun 2026 bagi 237 petani sawit, penyuluh dan ASN dari Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi bagian dari upaya strategis meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola kebun secara lebih baik, produktif, dan berkelanjutan. Program yang diselenggarakan AKPY didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan ini membekali peserta dengan keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil panen dan kualitas tandan buah segar (TBS).
Selama beberapa hari pelatihan, peserta mendapatkan materi teknis mulai dari budidaya kelapa sawit, teknik panen yang benar, hingga penanganan pascapanen. Seluruh materi tersebut menjadi fondasi penting dalam mendorong peningkatan produktivitas kebun, menjaga mutu hasil, serta memperkuat daya saing petani sawit rakyat di tengah tuntutan industri yang semakin kompetitif.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, SP, MP, menegaskan bahwa pelatihan pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani sawit.
Hal itu disampaikan Dr. Idum saat menutup rangkaian pelatihan, pada Selasa (23 Juni 2026). Menurutnya, seluruh materi yang diterima peserta harus menjadi bekal nyata untuk diterapkan di kebun masing-masing.
“Materi-materi tersebut merupakan bekal penting untuk meningkatkan produktivitas kebun, menjaga mutu tandan buah segar, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan usaha sawit tidak semata ditentukan oleh banyaknya hasil panen, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan kebun dan penerapan standar panen serta pascapanen yang tepat.
“Keberhasilan usaha sawit juga sangat ditentukan oleh bagaimana kebun dirawat, bagaimana panen dilakukan dengan benar, dan bagaimana mutu hasil dijaga sampai ke pabrik,” tegasnya.
Sebab itu, Dr. Idum berharap seluruh ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan di kebun masing-masing dan dibagikan kepada petani lainnya.
Ia bahkan mendorong para peserta untuk menjadi agen perubahan di wilayahnya masing-masing.
“Setelah kembali ke daerah masing-masing, saya berharap ilmu yang diperoleh bisa diterapkan, dibagikan kepada rekan-rekan petani lain, dan menjadi langkah untuk bekerja lebih baik, lebih tertib, dan lebih produktif,” katanya.
Lebih lanjut, Dr. Idum menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen BPDP dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit Indonesia agar semakin kompeten, profesional, dan sejahtera.
Ia meyakini bahwa praktik budidaya yang baik, panen sesuai standar, serta pengelolaan mutu yang disiplin akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.
“Kalau budidaya dilakukan dengan baik, panen sesuai standar, dan mutu hasil dijaga sungguh-sungguh, maka produktivitas akan meningkat, pendapatan petani membaik, dan kesejahteraan keluarga ikut terangkat,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Dr. Idum juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari BPDP, pemerintah daerah, perusahaan mitra, hingga peserta pelatihan.
“Kami berharap pelatihan ini menjadi bekal nyata dalam mewujudkan petani sawit yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera,” pungkasnya.














