Depok, SAWIT INDONESIA - Pemahaman pelaku usaha kecil, mikro, dan koperasi (UKMK) terhadap potensi turunan kelapa sawit dinilai masih terbatas pada produk pangan. Untuk memperluas wawasan tersebut, Majalah Hortus Archipelago bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk “Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK” di Kota Depok, Kamis (19 Februari 2026).
Workshop ini menjadi ruang diskusi terbuka antara pemerintah, asosiasi industri, akademisi, dan pelaku UMKM mengenai peluang pengembangan usaha berbasis turunan sawit, baik di sektor pangan maupun nonpangan.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok, Mohamad Thamrin, mengaku baru memahami luasnya pemanfaatan sawit setelah mengikuti pemaparan dalam forum tersebut.
“Selama ini kita mungkin hanya tahu sawit itu minyak goreng. Padahal dari bangun tidur sampai tidur lagi, banyak produk yang mengandung turunan sawit mulai dari sabun, minuman, pakaian, kasur, hingga kosmetik,” ujarnya.
Menurutnya, informasi tersebut penting bagi pelaku UMKM agar dapat melihat peluang usaha baru yang sebelumnya belum tergarap.
Berdasarkan data BPS Kota Depok, sekitar 60% produk domestik regional bruto (PDRB) Depok ditopang sektor UMKM. Saat ini terdapat sekitar 121.000 usaha mikro di kota tersebut yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
“UMKM ini tulang punggung ekonomi daerah. Kalau wawasannya bertambah dan inovasinya berkembang, dampaknya juga akan terasa pada perekonomian Kota Depok,” katanya.
Thamrin juga menyinggung bahwa kelapa sawit pertama kali dibudidayakan di Indonesia melalui Kebun Raya Bogor. Meski Depok tidak memiliki perkebunan sawit, peluang pengembangan produk turunannya tetap terbuka melalui sektor industri kreatif dan olahan.
Peluang Nilai Tambah
Ketua Bidang Budidaya Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Togu Rudian Saragih, menjelaskan bahwa sawit merupakan komoditas strategis nasional dengan luas perkebunan mencapai 16,83 juta hektare, termasuk sekitar 3 juta hektare sawit rakyat.
Pada 2024, nilai ekspor sawit tercatat sebesar US,85 miliar dengan kontribusi jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung.
“Selain untuk pangan, sawit juga dimanfaatkan dalam industri energi melalui biodiesel dan berbagai produk oleokimia,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, mendorong peningkatan produktivitas melalui program peremajaan sawit rakyat, dukungan sarana prasarana, serta penguatan sumber daya manusia.
Ketua Bidang Perkebunan di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), R. Azis Hidayat, menambahkan bahwa sekitar 42% kebun sawit dikelola oleh rakyat. Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci agar manfaat ekonomi sawit semakin merata.
“Hilirisasi membuka ruang bagi pelaku usaha skala kecil untuk ikut terlibat dalam rantai nilai yang lebih panjang,” katanya.
Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan lembaganya turut memfasilitasi promosi dan pengembangan UMKM berbasis sawit melalui berbagai pameran dan program pendampingan.
“Ada UMKM binaan yang produknya sudah menembus pasar ekspor. Kami juga menyiapkan katalog UMKM sawit untuk mendorong kolaborasi,” ujarnya.
Sementara itu, Dewan Pembina Majalah Hortus, Darmansyah Nasiruddin, menyebut workshop ini dirancang untuk memperkenalkan industri oleofood dan oleokimia secara praktis kepada pelaku UKMK.
“Harapannya, pelaku UKMK bisa melihat peluang baru, berinovasi, dan membangun jejaring usaha yang lebih luas,” ujarnya.














