JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Potensi biomassa kelapa sawit Indonesia dinilai sangat masif, tetapi volume limbah yang melimpah tidak otomatis menjelma menjadi bahan baku bernilai ekonomi tinggi. Komoditas ini masih dihadapkan pada tantangan efisiensi logistik, efektivitas teknologi pengolahan, operasional pabrik, hingga kepastian pasar dan jaminan keberlanjutan.
Dalam sesi diskusi Palmex Medan 2026, Executive Director UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), M. Windrawan Inantha, memaparkan bahwa potensi limbah sawit nasional mencakup:
- Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS): 48,2–55,4 juta ton/tahun.
- Serat Mesokarp: 24,1–36,1 juta ton/tahun.
- Cangkang Inti Sawit: 11,4–16,9 juta ton/tahun.
- Pelepah Sawit: 175–242 juta ton bahan kering/tahun.
- Limbah Cair (POME): 120–181 juta meter kubik/tahun.
"Residu harus dapat dipulihkan dengan teknologi yang sesuai, dikumpulkan dan dikirim dengan biaya masuk akal, serta dipasok tanpa mengabaikan kebutuhan kebun dan perlindungan lingkungan," ujar Windrawan di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Poin-poin utama tantangan rantai pasok, komposisi biaya, serta model kolaborasi lanskap mencakup:
- Kendala Logistik & Biaya Angkut Bioetanol: Guru Besar Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus peneliti Consortium Studies on Smallholder Palm Oil, Prof. Dr. Diana Chalil, mengungkapkan bahwa dari perkiraan 46,16 juta ton TKKS nasional, sekitar 23,08 juta ton berpotensi dimanfaatkan secara komersial. Namun, dalam industri bioetanol berbasis TKKS, biaya pengangkutan dan faktor jarak merupakan porsi pengeluaran bahan baku yang jauh lebih besar dibanding harga TKKS itu sendiri.
- Integrasi Hulu-Hilir & Keberlanjutan: Prof. Diana menegaskan pentingnya pemetaan volume riil, kalkulasi pengiriman, serta kepastian agar pemanfaatan limbah baru tidak mengganggu fungsi mulsa organik tanah di kebun.
- Pembelajaran Kolaborasi Lanskap SPLP: Senior Project Manager Daemeter Consulting, Jimmy Wilopo, membagikan praktik baik Siak Pelalawan Landscape Programme (SPLP) di Riau yang melibatkan sembilan perusahaan hulu-hilir. Program ini mengintegrasikan penguatan pekebun, ketelusuran (traceability), serta perlindungan hutan dan lahan gambut tersisa di Sumatera secara multipihak.
Para ahli menyimpulkan bahwa diversifikasi komersial biomassa sawit baru dapat terwujud secara optimal jika ketersediaan teknologi, keandalan rantai pasok logistik, kepastian pembeli (offtaker), dan prinsip ekonomi sirkular yang berkelanjutan berjalan secara selaras.
Sumber: antaranews.com














