Bogor, SAWIT INDONESIA — Ketimpangan produktivitas dan rantai pasok masih menjadi tantangan besar dalam industri kelapa sawit nasional. Di satu sisi, petani rakyat menguasai sekitar 42 persen dari total lahan perkebunan sawit di Indonesia. Namun, tingkat produktivitas lahan petani saat ini baru mencapai separuh dari hasil yang dicapai oleh perkebunan skala korporasi.
Fakta tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Terbatas bertema “Membangun Ketahanan, Kemandirian Pangan dan Energi Melalui Nexus Baru Tata Kelola Sawit Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Rumah Sawit Indonesia di IPB University, Bogor, Senin (31/8/2026).
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Muhammad Abdul Ghani, yang hadir sebagai pembicara, menegaskan bahwa luasnya penguasaan lahan oleh petani belum sepenuhnya dibarengi dengan peningkatan kapasitas produktivitas maupun posisi tawar yang setara dalam industri.
“Petani yang menguasai 42 persen, faktanya produktivitas hanya separuh dibandingkan korporasi,” ujar Abdul Ghani di hadapan para peserta forum.
Menurutnya, pembenahan ekosistem sawit nasional sudah mendesak dilakukan guna membuka akses yang lebih luas bagi petani terhadap peningkatan kapasitas, pola kemitraan yang adil, serta distribusi manfaat ekonomi yang berkeadilan.
Lebih lanjut, Abdul Ghani menekankan pentingnya pergeseran paradigma korporasi dalam melihat investasi. Investasi di sektor perkebunan tidak boleh sekadar berorientasi pada perolehan laba perusahaan semata, melainkan harus mampu memperluas kesempatan kerja dan mendistribusikan kesejahteraan secara merata ke masyarakat luas.
Sektor perkebunan memiliki efek ganda (multiplier effect) yang sangat kuat, baik di sektor hulu maupun sepanjang rantai pasok, sehingga potensinya sangat besar dalam menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi daerah. Hal tersebut, kata Abdul Ghani, sejalan dengan visi besar pemerintah dalam Asta Cita.
“Cara pandang korporasi ke depan harus diubah, bagaimana petani itu lebih berdaya,” tegasnya.
Sebagai langkah nyata, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) berkomitmen untuk terus mendorong pola kemitraan strategis yang menempatkan petani dan masyarakat lokal sebagai pelaku aktif, bukan sekadar penonton. Keberpihakan kepada masyarakat juga dipandang melampaui batas program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility), melainkan menjadikan warga sekitar sebagai pilar utama dalam ekosistem keberlanjutan bisnis.
Melalui sinergi peningkatan produktivitas, kemitraan berkeadilan, dan tata kelola yang bertanggung jawab, industri kelapa sawit diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi nasional, memperluas lapangan kerja, serta menciptakan pemerataan ekonomi yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sumber: agrinaspalma.co.id














