Jakarta, SAWIT INDONESIA - Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM RI Edi Wibowo mengatakan potensi biogas di Indonesia sangat besar mengingat industri perkebunan dan peternakan yang kita punya. Apalagi, kata Edi, bila bersentuhan dengan gas metana, seperti bio CNG, pemanfaatannya dapat mengurangi efek rumah kaca yang terjadi.
"Gas metan bisa dikompres menjadi CNG, bisa lebih bermanfaat" ungkapnya saat menjadi pembicara di Seminar Nasional yang diadakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta pada Rabu (31/1/2024).
Biomethane Compressed Natural gas atau Bio-CNG merupakan gas buangan mengandung metana yang sudah diproses. Bio-CNG ini merupakan bagian dari bio gas yang diproyeksikan sebagai energi baru dan terbarukan pengganti gas alam dan batubara.
Manfaat dari CNG ini juga diungkapkan Setyoadi Purwanto, project management dari PT Dharma Satya Nusantara (DSN)Tbk. Setyo mengatakan perusahaan telah memulai project bio-CNG sejak 2019 lalu.
"Kita tahu kerusakan lingkungan dari metan itu luar biasa, makanya kita coba untuk melakukan pengoptimalan," ungkapnya.
Emiten berkode DSNG ini menyadari penggunaan bahan bakar solar tidak ramah lingkungan, apalagi mereka diharuskan membeli solar industri yang harganya lebih mahal dibandingkan solar subsidi. Setyo mengakui sudah lama DSN berusaha mengurangi penggunaan solar.
"Solar itu kan kita pakai terus, praktik perkebunan sawit pasti selalu menggunakan solar apalagi di wilayah kami. Kami ingin mandiri dalam energi, " lanjutnya.
Project bio-CNG menjadi jawaban atas independensi energi tersebut. Dengan memanfaatkan limbah cair sawit atau POME, DSN merubah limbah sawit menjadi bahan bakar truk.
Terhitung, pada project pertama DSN sukses membangun kapasitas bio-CNG hingga 285m³ perjam. Belum termasuk project kedua yang baru saja diluncurkan.
Setyo melihat, bio-CNG dapat digunakan secara luas, sebagai pengganti solar atau sebagai co-firing. Bagi Setyo, CNG merupakan peluang guna mengejar target independensi energi.
Di DSN sendiri, Setyo menyatakan sudah terdapat 50 truk yang menggunakan bio CNG, selain itu penggunaannya juga dapat diaplikasikan di mesin diesel.
Setyo melihat hal ini menguntungkan sebab bio CNG dapat mengganti minyak bumi ataupun batubara. "Jadi kalau kami lihat bio CNG ini secara bisnis menguntungkan, secara lingkungan juga iya," pungkasnya.














