Jakarta, SAWIT INDONESIA – Petani sawit memiliki peran penting dalam perkelapasawitan Indonesia. Sebab, tidak hanya menjadi penggerak produksi minyak sawit, melainkan mempunyai dampak signifikan terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat desa, terutama di daerah sentra-sentra sawit.
Untuk itu, peningkatan kapasitas petani sawit perlu dilakukan. Hal inilah yang menjadi konsen bagi pemerintah dalam menjaga keberlanjutan sawit, melalui kegiatan pelatihan, yang melibatkan lembaga pelatihan, IPB Training.
Kali ini, pelatihan diikuti petani sawit dari Aceh Tamiang (61 orang) dan Aceh Timur (27 orang), Provinsi Aceh, dengan total peserta 88 orang untuk kegiatan pelatihan kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit. Pelatihan selama lima hari (8 – 12 Juli 2025), di salah satu hotel ternama di Nangroe Aceh, Provinsi Aceh.
Sebagai informasi, pelatihan ini adalah bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit 2025, hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dan IPB Training sebagai mitra penyelenggara.
Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen BPDP dan IPB Training dalam pengembangan sumber daya manusia sawit yang profesional dan siap menghadapi tantangan industri ke depan.
Tujuan utama pelatihan adalah untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan petani dalam mengelola budidaya kelapa sawit secara produktif, berkelanjutan, dan sesuai dengan standar mutu nasional.
Perwakilan dari IPB Training, Dr. Ir. Hariyadi, M.S, menyampaikan dalam pelaksanaannya peserta mendapatkan materi yang mencakup berbagai tahapan penting dalam budidaya kelapa sawit.
"Mulai dari pemilihan bibit unggul, pengelolaan lahan, teknik penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman. Hal-hal inilah yang penting dan harus dipahami para petani sawit," ujarnya, saat menyampaikan sambutan, pada Selasa (8 Juli 2025).
Menurut Dr. Haryadi, banyak petani yang membeli bibit di pasaran tanpa mengetahui kualitasnya. "Dalam pelatihan ini, petani mendapatkan pemahaman untuk memilih bibit unggul dengan kriteria yang jelas, seperti bibit yang sudah berumur minimal 9 bulan, tinggi 125 cm, dan memiliki 18 pelepah," katanya.
Lebih lanjut, Dr. Haryadi mengingatkan pentingnya tujuh aspek utama dalam budidaya kelapa sawit yang sukses dan berkelanjutan, yaitu: legalitas, produktivitas, kualitas, kontinuitas, sustainabilitas, traceabilitas, dan profitabilitas.
"Semua aspek ini diharapkan dapat membuat petani lebih mandiri dan mampu menjalankan usaha tani yang berkelanjutan. Menanam kelapa sawit itu tidak hanya berorientasi kepada produksi pada hasil, namun demikian dalam budidaya kelapa sawit yang benar dan berkelanjutan tidak cukup hanya untuk berproduksi tinggi tetapi usahakan untuk mendapatkan tujuh Tas," tegasnya.
Petani sawit harus bisa menguasai aspek-aspek utama di atas yang menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya kelapa sawit: Legalitas, yakni kepemilikan lahan dan sertifikasi benih yang jelas dan sah. Produktivitas, yaitu hasil panen yang tinggi secara konsisten. Kualitas, berupa mutu tandan buah segar yang sesuai standar industri. Kontinuitas, yakni ketersediaan hasil panen secara berkelanjutan. Sustainabilitas, atau penerapan praktik usaha tani yang ramah lingkungan. Traceabilitas, kemampuan melacak asal-usul produk dari hulu hingga hilir. Profitabilitas, yakni usaha tani yang menguntungkan secara ekonomi.
"Kami ingin para petani sawit menjadi mandiri, paham mutu dan kualitas, serta mampu menjalankan usaha tani yang berkelanjutan. Dengan begitu, hasil panen mereka akan semakin optimal," pungkas Dr. Hariyadi.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Penyuluhan dan Pengembangan SDM, Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemerintah Provinsi Aceh, Mukhlis SP, MA menambahkan bahwa pelatihan ini penting dan harus diikuti, dicermati dan dipahami sampai bisa dari mulai penyediaan bibit, pemeliharaan, hama penyakit.
Kunjungan kebun perusahaan
Selain mendapatkan materi (teori dan simulasi), para peserta diwajibkan mengikuti kegiatan kunjungan lapang yang dilaksanakan pada Jumat (11 Juli 2025), dengan mengunjungi perusahaan perkebunan sawit, PT Agro Sinergi Nusantara.
Pada kesempatan itu, peserta dapat mengamati langsung praktik budidaya kelapa sawit di tiga lokasi: area pembibitan, tanaman belum menghasilkan, dan tanaman menghasilkan. Kegiatan ini memberikan wawasan praktis yang memperkuat pemahaman peserta terhadap teori yang telah diberikan.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan praktis kepada pekebun sawit mengenai kegiatan budidaya kelapa sawit dan pembenihan kelapa sawit di industri. Selain itu kegiatan kunjungan lapang ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para peserta untuk mendapatkan pengetahuan secara lebih luas dan spesifik lagi mengenai dunia industri PKS, dan agar dapat bermanfaat bagi diri, dan kemajuan Sawit Indonesia.
Kegiatan kunjungan diawali, mengunjugi lokasi kebun tanaman menghasilkan (TM), untuk memperlihatkan teknis panen yang baik dan efektif, OPT yang menyerang di kebun TM dan cara penangan pasca buah telah dipanen.
Kemudian, mengunjungi kebun pembibitan untuk mengamati beberapa contoh bibit yang tidak bagus dan berdiskusi penyebabnya. Peserta juga antusias bertanya bagaimana cara mengidentifikasi bibit yang bersertifikasi dan belum tersertifikasi.
Melalui pelatihan dan kunjungan kebun perusahaan harapannya, peserta mendapatkan wawasan langsung mengenai teknik panen yang efektif, pemilihan bibit unggul, dan pengelolaan kebun berkelanjutan.














