• Sabtu, 3 Oktober 2026
Berita Terbaru

Terobosan Pelatihan Pupuk Organik 2026, Program BPDP DAN BPI, Membuat Perkebun Indragiri Hilir Tercerahkan Luar Biasa

Indragiri Hilir, SAWIT INDONESIA - Selama ini slogan perkebunan berkelanjutan adalah kombinasi pemakaian pupuk organik dengan pupuk kimia, perbandingannya mencapai 50% organik : 50% kimia. Pertanyaan yang muncul adalah kenapa harus dikombinasikan? Dan apakah hasilnya jadi lebih baik?

Pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik, program pengembangan sumberdaya manusia perkebunan dari BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan), Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan) dan BPI (Best Planter Indonesia) memberikan jawaban yang jelas mengenai pertanyaan diatas. Pelatihan dilaksanakan dihotel New Hollywood, kota Pekanbaru pada tanggal 14 – 17 Juli 2026, diikuti oleh 111 orang peserta asal Kabupaten Indragiri Hilir.

Penggunaan pupuk organik akan memperbaiki sifat fisik dan sifat biologi tanah, sedangkan pupuk kimia akan memperbaiki sifat kimia tanah. Lebih jauh dijelaskan dalam pelatihan ini, bahwa pupuk organik itu miskin unsur hara NPKMgB yang dibutuhkan tanaman. Sebaliknya pupuk kimia kaya dengan unsur hara NPKMgB. Berikutnya pupuk organik kaya dengan mikroba baik jenis bakteri atau fungi yang menjadi agen perbaikan tanah secara alami, bekerja 24 jam setiap harinya dan bisa berkembang biak. Mikroba ini tidak terdapat dalam pupuk kimia. Selanjutnya pupuk organik kaya dengan hormon (auksin untuk bertambah panjang, giberelin untuk tambah besar, sitokinin untuk bercabang, etilen untuk mematangkan buah dan asam absisat untuk menghentikan pertumbuhan sesaat), sedangkan pupuk kimia tidak mengandung hormon. Kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Dalam pelatihan pupuk organik ini, peserta mencoba praktek pembuatan pupuk organik dengan 3 tujuan utama, yaitu 1) mendapatkan hara NPKMgB dari bahan baku organik, 2) mendapatkan dan mengembangbiakkan mikroba, 3) mendapatkan hormon atau zat perangsang tumbuh (ZPT). Untuk mendapatkan hara digunakan bahan pencampur berupa garam, sedangkan untuk mendapatkan mikroba dan hormon digunakan bahan pencampur berupa molase (larutan gula).

Mikroba yang didapatkan dan dikembangbiakkan peserta pelatihan pupuk organik ada yang jenisnya bakteri dan ada yang jenisnya jamur. Dari air cucian beras, peserta mendapatkan bakteri asam laktat (BAL). Begitu juga dari fermentasi kulit pisang dan kulit nenas, peserta juga mendapatkan BAL. Dari isolasi akar dan tanah bambu, peserta pelatihan mendapatkan jamur trichoderma. Saat membuat POC (pupuk organik cair) dari irisan kubis ditambah garam, peserta pelatihan mendapatkan hara Boron (B).

Peserta pelatihan pupuk organik asal Kabupaten Indragiri Hilir mendapatkan pencerahan luar biasa dari pelatihan ini. Hal – hal yang terlihat sangat biasa dan malah terabaikan selama ini, ternyata menyimpan banyak manfaat. BPI menantang para peserta pelatihan untuk mempraktekan ilmu dan pengalaman yang telah didapat sekembalinya ke rumah masing – masing. Buktikan hasil pelatihannya dengan memposting foto atau video pembuatan pupuk organik di group peserta pelatihan. Hal ini bisa memicu peserta lain yang belum mempraktekkan agar segera bergerak.

Satu slogan yang disampaikan BPI diakhir sesi pelatihan, jika ada teriakan: “pembuatan pupuk organik...!”, maka dijawab: “coba saja dulu”.
Selamat mencoba, sukses untuk kita semua.

Artikel Terkait