Jakarta, SAWIT INDONESIA — PT Teladan Prima Agro, Tbk. (TLDN) menunjukkan capaian konkret dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sepanjang 2025. Perusahaan mencatat sejumlah kemajuan signifikan, mulai dari kepatuhan sertifikasi, kinerja lingkungan, hingga penguatan energi terbarukan dan konservasi.
Direktur Sustainability PT Teladan Prima Agro, Tbk. (TLDN), Yayan H. Ginanjar, mengungkapkan bahwa implementasi aspek keberlanjutan di lingkungan perusahaan mengacu pada regulasi nasional, khususnya standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
"Yang paling utama diterapkan di TLDN ini adalah bahwa Permentan Nomor 11 soal ISPO, seluruh anak perusahaan kita sudah mencapai standar ISPO. Ada 9 perusahaan seluruhnya. Demikian juga untuk operasional di pabrik juga kita sudah bisa mencapai PROPER, dari seluruh pabrik," ujarnya saat konferensi pers usai merampungkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2025, pada Kamis (16 April 2026), di kantornya, Jakarta.
Dari sisi lingkungan, perusahaan juga mencatat penurunan emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan. Sepanjang 2025, emisi berhasil ditekan hingga 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Kita juga tahun ini sudah bisa menurunkan gas rumah kaca dibanding pada tahun lalu itu sekitar 18 persen. Ya, cukup banyak," lanjut Yayan.
Upaya tersebut didukung oleh pengembangan energi baru terbarukan melalui pembangunan fasilitas biogas power plant yang terintegrasi dengan kernel crushing plant (KCP). Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menekan dampak pemanasan global sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
"Salah satu upaya itu adalah bahwa kita sudah membangun biogas power plant untuk mendukung KCP, di mana di sini tentu energi yang digunakan adalah terbarukan. Itu salah satu fitur dalam hal global warming yang tentu ini menjadi isu internasional juga," jelas Yayan.
Selain itu, komitmen terhadap pelestarian lingkungan juga diwujudkan melalui pengelolaan kawasan konservasi. Saat ini, Teladan Prima Agro memiliki area konservasi seluas 9.719 hektare atau lebih dari 10 persen dari total areal yang dikelola.
"Dari sisi konservasi areal, kita saat ini memiliki areal yang cukup banyak sekitar 9.719 hektare, atau mungkin ada 10 persen lebih dari total areal kita. Ini untuk menjaga biodiversity, yang tentu juga bisa menyerap karbon," tambahnya.
Capaian tersebut mencerminkan langkah nyata perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam operasional bisnis, sekaligus menjawab tuntutan global terhadap praktik industri kelapa sawit yang berkelanjutan.














