• Selasa, 6 Oktober 2026
Berita Terbaru

Teknologi Pemuliaan Benih dan Riset Terpadu Jadi Tumpuan Pengendalian Ganoderma

Jakarta, SAWIT INDONESIA - Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense kini menjadi ancaman utama bagi industri kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Dampaknya tidak main-main—penurunan produktivitas secara drastis hingga kebun menjadi tidak layak secara ekonomi. Potensi kerugian akibat serangan ini bahkan ditaksir mencapai triliunan rupiah.

Indra Syahputra, Head of R&D PT Socfin Indonesia (Socfindo) mengungkapkan bahwa bahaya Ganoderma belum mendapat perhatian yang memadai, baik dari pemerintah maupun pemangku kepentingan industri. Dalam gelaran HASI 2025: Mekanisasi, Digitalisasi, Teknologi Industri Sawit di Indonesia dan Malaysia yang digelar di Jakarta, 7–8 Mei 2025.

Indra Syahputra menyerukan pentingnya kampanye nasional untuk meningkatkan kesadaran dan upaya penanggulangan penyakit ini.

“Serangan Ganoderma paling banyak terjadi pada generasi tanam kedua. Dalam banyak kasus, hingga 60%–80% populasi pohon bisa hilang pada usia 15 tahun. Ini jelas mengancam keberlanjutan industri sawit kita,” kata Indra, Kamis (8/5).

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penggunaan material tanaman yang toleran terhadap Ganoderma. Namun, implementasi solusi ini masih menghadapi kendala klasik: harga yang tinggi dan pasokan yang terbatas.

Oleh sebab itu, Indra mendorong percepatan riset dan pengembangan teknologi seleksi bibit tahan penyakit.

Menurutnya, percepatan tersebut harus mencakup pemanfaatan teknologi molekuler untuk seleksi ketahanan, eksplorasi plasma nutfah lokal dan liar, serta pencarian marka genetik yang dapat digunakan secara luas di industri.

“Dengan begitu, proses seleksi di pembibitan bisa lebih cepat, akurat, dan terjangkau bagi semua pihak,” ujarnya.

Indra juga menekankan bahwa kualitas tanah yang menurun pada generasi tanam kedua memperparah kerentanan terhadap penyakit tular tanah seperti Ganoderma. Oleh karena itu, strategi pencegahan juga harus mencakup perbaikan kesuburan dan kesehatan tanah.

Artikel Terkait