IAS Global Pte Ltd menawarkan solusi instrumen NIR IAS-6100 untuk industri kelapa sawit. Teknologi NIR dapat mengurangi potensi kehilangan minyak (oil losses) dan membantu produktivitas sawit.
Salah satu strategi meningkatkan rendemen dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya potensi oil losses. Perkembangan teknologi saat ini mampu mengoptimalkan peningkatan rendemen salah satunya pemanfaatan teknologi Near-Infrared Spectroscopy (NIRS)
IAS Global Pte.Ltd yang memiliki solusi pemanfaatan teknologi NIRS untuk melakukan analisis tercepat dan efektif untuk pabrik kelapa sawit. Solusi produk yang dimilikinya adalah IAS – PAT L1M (NIRS Online System).
Key Account & Project Manager dari IAS Global Pte.Ltd, Edi Hariyanto menjelaskan bahwa pabrik sawit membutuhkan data lebih cepat dan akurat untuk mendapatkan variasi kualitas TBS, kondisi proses pabrik, serta fokus pengurangan kehilangan minyak (oil losses).
“Teknologi NIR dapat memberikan kebutuhan tersebut seperti analisis oil losses secara cepat, non-destruktif, dan multi-parameter,” jelas Edi.
Menurut Edi, teknologi NIR memiliki empat point utama untuk dapat dimanfaatkan oleh pabrik sawit. Pertama, waktu analisa yang cepat dibandingkan menggunakan analisa manual laboratorium memakan waktu dan terbatas jumlah sampelnya.
Kedua, hasil analisa yang cepat akan menjadikan pengambilan keputusan menjadi lebih cepat sehingga variasi proses lebih terkontrol. Ketiga, dengan satu instrument maka setiap analisa memberikan hasil beberapa parameter sekaligus. Keempat, hasil pengukuran akan lebih stabil dibandingkan analisa manual laboratorium yang lebih tinggi potensi errornya.
Lalu, sampel apa saja yang dapat dianalisa oleh teknologi NIR? Dengan kemampuannya, NIR dapat menjadi jawaban dalam analisa oil losses dengan cepat. Hal ini penting untuk mengontrol proses di pabrik. Parameter sampel - sampel losses yang dapat dianalisa meliputi kadar minyak (oil) dan kadar air (moisture) pada Press Fiber, Final Effluent, Empty Bunch, Shell in Nut, hingga Solid Decanter.
Selain itu untuk sampel proses lainnya seperti Heavy Phsae Decanter, Sludge Centrifuge, Sludge Separator, dan Underflow CST juga dapat diperiksa. Untuk sampel quality, NIR juga mampu menganalisa kadar minyak dalam TBS dan MPD, kadar FFA, moisture, dan DOBI dalam sampel CPO, maupun kadar air dalam palm kernel (inti sawit).
Berdasarkan ISO 12099, dijelaskan Edi, instrumen NIR harus divalidasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk analisa rutin. Untuk mendapatkan hasil NIR yang akurat, dalam melakukan kalibrasi dan validasi kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut yaitu sampel yang representatif, homogen dan tidak ada kontaminasi, analisa metode referensi sebagai pembanding harus terpercaya, dan melakukan validasi NIR secara berkala, misalkan per 6 bulan sekali ataupun satu tahun sekali.
Edi mengatakan bahwa manfaat penggunaan NIR dapat menurunkan penggunaan bahan kimia di laboratorium secara signifikan sehingga lebih ramah terhadap kesehatan analis laboratorium dan juga terhadap lingkungan.
“Saat ini, penggunaan teknologi NIR bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia dan bahkan mulai merambah ke Afrika,” jelasnya.
Selain pabrik kelapa sawit, implementasi teknologi NIR dapat dilakukan di pabrik pengolahan inti sawit (Kernel Crushing Plant) dan juga Palm Oil Refinery. Dalam perkembangannya, selain daripada NIR yang digunakan di laboratorium, saat ini NIR sudah bisa diimplementasikan secara langsung di dalam proses pabrik yang biasa disebut Online (atau Inline) NIR Analyzer, teknologi ini meningkatkan transformasi digital dalam industri kelapa sawit.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)














