Jakarta, SAWIT INDONESIA - Pelaku industri kelapa sawit mendorong percepatan replanting dan penerapan mekanisasi untuk meningkatkan produktivitas di tengah berbagai tantangan sektor ini. Hal itu mengemuka dalam sesi diskusi pertama Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 di Jakarta, Rabu (22 April 2026).
Chief Executive Officer Upstream Malaysia Jeffry Faizal Kamaruddin mengatakan peremajaan kebun harus menjadi momentum untuk memperbaiki desain perkebunan secara menyeluruh. Menurut dia, desain kebun yang tepat akan menentukan keberhasilan mekanisasi.
“Replanting bukan sekadar mengganti tanaman, tetapi merancang ulang kebun agar lebih efisien dan siap untuk mekanisasi,” ujarnya.
Ia menyoroti tantangan pengelolaan lahan gambut yang masih dominan di sejumlah wilayah. Dalam kondisi tersebut, perusahaan tetap dapat beroperasi dengan menyesuaikan teknologi dan pengelolaan air.
“Kami menggunakan berbagai jenis alat, termasuk yang lebih ringan, serta memastikan sistem pengelolaan air berjalan baik,” katanya.
Jeffry menegaskan, kendala utama mekanisasi bukan pada teknologi, melainkan pada tata kelola kebun yang belum optimal. Banyak kebun lama memiliki akses terbatas dan desain yang tidak mendukung penggunaan alat berat.
Dalam forum yang sama, SVP Research and Development PT Astra Agro Lestari Cahyo Sri Wibowo menyampaikan bahwa kebutuhan replanting semakin mendesak seiring bertambahnya usia tanaman.
Ia menyebut sebagian kebun perusahaan telah berumur di atas 20 tahun, bahkan mencapai 30 tahun. Kondisi tersebut membuat produktivitas menurun sehingga perlu segera diremajakan.
“Kami menargetkan tanaman di atas 20 tahun mulai direplanting, terutama yang sudah tidak produktif,” ujarnya.
Astra Agro, yang mengelola sekitar 280.000 hektare kebun, memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan prioritas area replanting. Pendekatan ini membantu perusahaan mengatur skala prioritas secara lebih akurat.
Selain itu, perusahaan juga menghadapi tantangan teknis di lapangan, seperti serangan hama oryctes di lahan berpasir di Kalimantan Tengah. Cahyo menilai metode konvensional tidak selalu efektif dalam menangani masalah tersebut.
Ia menyarankan penggunaan varietas tanaman yang beragam untuk mengurangi risiko produksi. “Kombinasi varietas penting agar jika satu bermasalah, yang lain bisa menutup,” katanya.
Astra Agro mencatat realisasi replanting sekitar 5.000 hektare pada 2025 dan menargetkan meningkat menjadi 8.500 hektare pada 2026. Perusahaan juga memanfaatkan teknologi seperti drone untuk memantau kondisi kebun secara cepat dan akurat.














