Program risetsawit Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit juga membidik kemandirian dan ketahanan energi nasional. Saat ini, riset pengembangan biofuel juga diperluas kepada sektor penerbangan.
Sesi Diskusi Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2024 dengan tema "Peran Industri Kelapa Sawit dalam Mendukung Kemandirian Energi", mendapatkan respon luar biasa dari peserta. Ada lima peneliti sebagai narasumber sesi tersebut antara lain Dr. Ir. C.B. Rasrendra (ITB) "Inovasi Katalis dalam Mendukung Industri Bensin Sawit", Dr.Rais Zain (ITB) "Uji Terbang J.24. Menuju Implementasi Bioavtur" dan Dr. Ir. Dyah Wulandani, M.Si. (IPB) "Produksi Biodiesel dari PFAD denganTeknologi Fine Bubble".
Selain itu juga ada Dr. Cahyo Setyo Wibowo (LEMIGAS) "Uji B40 untuk Mesin Diesel pada Sektor Non-Otomotif" serta Dr. Ir. Asri Gani, M.Eng., (USK) "Produksi Bahan Bakar Kalori Tinggi " Bio-coke" dari Limbah Padat Kelapa Sawit".
Dalam sesi tersebut, Vice Chair on Research and Technology APROBI, Jummy Bismar Sinaga menyampaikan biodiesel Indonesia mempunyai sejumlah tantangan, khususnya soal teknologi. menurut Jummy setiap perkembangans pesifikasi akibat dari peningkatan campuran BIODIESEL disolar maka perlu peningkatan mutu, hal ini menyebabkan pabrik biodiesel perlu mengadopsi teknologi baru atau rekayasa engineering atas pabrik lama yang ada, sehingga konsumen memiliki tingkat keberterimaan yang tinggi atas biodiesel ini walaupun campurannya meningkat.
“Maka, akan ada adopsi teknologi, melalui instalasi-instalasi mesin yang terbaru untuk mendapatkan kualitas terbaik. Contoh seperti Monogleserida yang dulunya 0,8 menjadi 0,5 bahkan akan 0,47 untuk B50 rencananya. Ini menjadi tantangan kami soal industri biodiesel,” ujarnya.
Dr. Cahyo Setyo Wibowo (LEMIGAS) juga menjelaskan bahwa Uji B40 juga dijalankan bagi mesin diesel untuk kendaraan non-otomotif antara lain alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, kereta api, pembangkit, dan kapal laut
Peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Ir. C.B. Rasrendra dalam paparan menyampaikan, riset yang pihaknya lakukan merupakan keberlanjutan program pengembangan lanjut bahan bakar nabati biohidrokarbon (bensin sawit, bensa) dan bahan pangan dari sawit yang terintegrasi dengan kebun sawit rakyat (skala pabrik kelapa sawit 5 ton TBS per jam). Terobosan-terobosan yang diperjuangkan dalam riset ini merupakan bagian dari sinergi penguatan inovasi katalis dan teknologi proses "merah putih" .
"Program ini sekaligus bagian untuk mendukung Program Strategis Nasional (PSN) Perpres 109/2020 terkait Pengembangan Teknologi Produksi Minyak Nabati Industri (IVO) dan Bensin Sawit dengan Katalis Merah Putih yang Terintegrasi dengan Kebun Rakyat," katanya kepada peserta dan kalangan industri yang ambil bagian dalam PERISAI 2024 di Nusa Dua, Kamis (3/10/2024), seperti dikutip dari laman RRI.
Rasrendra menyampaikan, riset ini mengupayakan optimasi lanjut teknologi produksi bensa. Tidak hanya itu, pihaknya ingin mewujudkan penggunaan ragamumpan yang lebih fleksibel untuk mendapatkan bensa dengan harga yang lebih kompetitif.
Sejumlah strategi dilakukan untuk merealisasikan upaya tersebut. Pertama, Penerapan teknologi yang dapat mengolah hasil kebun sawit rakyat menjadi bahan baku bensin biohidrokarbon dalam rangka mendukunga manat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 tentang pengembangan teknologi katalis dan bensin sawit yang terintegrasi dengan kebun sawit rakyat.
Langkah kedua, melalui optimalisasi teknologi proses produksi bensin sawit G2 skala 1000 Liter per hari. Kemudian, pemantapan formula dan pengembangan pabrik katalis bensa.
"Upaya selanjutnya adalah optimalisasi teknologi bensa dengan memperkuat implementasi ekonomi sirkular dan pemilihan umpan yang kompetitif," jelasnya.
Dalam upaya menyediakan bahan baku untuk produksi bensa yang kompetitif dan mendukung hilirisasi kebun sawit rakyat, Rasrendra menyampaikan, riset ini akan menghasilkan unit percontohan yang memiliki kemampuan untuk mengolah TBS. Semua itu berasal dari kebun sawit rakyat menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi berupa CPO Premium.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 156)














