• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

Tantangan B60 Tinggi, Kementerian ESDM Lirik Peluang Opsi Campuran HVO 10%

Bali, SAWIT INDONESIA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut program mandatory biodiesel 50% (B50) tetap direalisasikan pada 2027.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa implementasi B50 membutuhkan kesiapan komitmen pasokan serta investasi yang memadai dari para produsen dan penyedia jasa logistik pengiriman (offtaker).

"Target B50 ini ditargetkan tetap untuk tahun 2027. Kami ingin memastikan komitmen penyaluran B50 di pasar berjalan tanpa kendala, sehingga dibutuhkan kolaborasi erat dengan seluruh rantai pasok dan pengiriman guna mendorong investasi serta pemenuhan volume," ujar Eniya dalam sambutannya secara daring pada gelaran 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (17 September 2026).

Eniya menjelaskan, pemerintah saat ini memberi jeda waktu persiapan setidaknya satu tahun untuk mematangkan infrastruktur teknis dan rantai pasok sebelum melangkah ke tingkat pencampuran yang lebih tinggi.

Terkait wacana pengembangan hingga B60, Eniya mengakui terdapat tantangan teknis yang cukup besar jika hanya mengandalkan Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Sebagai solusinya, opsi porsi 10% tambahan menuju B60 dapat dipenuhi melalui penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).

"Pencampuran hingga 60% memiliki tantangan tersendiri. Namun, ada potensi kita menambah 10% menggunakan HVO jika ingin melampaui B50, dengan catatan tetap mempertimbangkan keekonomian dan penyesuaian harga HVO di pasar," tambahnya.

Melalui kepastian peta jalan B50 pada 2027 mendatang, pemerintah berharap industri biofuel nasional mampu menciptakan iklim investasi baru yang lebih kuat sekaligus mendukung ketahanan energi berkelanjutan.

Sejalan dengan percepatan transaksi energi bahan bakar nabati di sektor darat, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait juga terus mematangkan peta jalan pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) atau bioavtur.

Berdasarkan rencana pengembangan program bioavtur nasional, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelumnya telah berhasil memproduksi formulasi bioavtur J2.4 (pencampuran 2,4% Bioavtur dengan 97,6% Avtur/Jet A1) melalui metode co-processing di Kilang RU IV Cilacap dengan kapasitas 10.000 barel per batch. Uji coba produksi dan implementasi dengan bahan baku minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) juga telah sukses dilakukan pada Agustus 2024 sebesar 9.000 barel.

Guna menopang komersialisasi bioavtur, Pertamina menyiapkan ekspansi fasilitas Biorefinery Cilacap Tahap 2 berkapasitas 200.000 kiloliter (KL) per tahun berbasis CPO, UCO, maupun Palm Oil Mill Effluent (POME) yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV/2026, disusul Biorefinery Plaju berkapasitas 200.000 KL per tahun pada 2028.

Langkah ini dilakukan untuk mendukung rencana dimulainya implementasi komersial pencampuran 1% bioavtur pada 2026 bagi penerbangan internasional dari Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara I Gusti Ngurah Rai (DPS), sekaligus memenuhi standar pemenuhan kriteria sertifikasi reduksi emisi internasional CORSIA.

Artikel Terkait