Jakarta, SAWIT INDONESIA - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) akan membuka lapangan kerja untuk lebih dari 20 ribu orang sebagai upaya mendukung pengelolaan aset perkebunan sawit.
“Agrinas bukan lakukan PHK, justru akan merekrut banyak pekerja untuk meningkatkan produktivitas. Perusahaan harus memastikan seluruh tanaman dikelola dengan baik,” ujar Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Senin (6 Juli 2026).
Kebutuhan tenaga kerja sebesar 20 ribu orang ini terdiri dari 1.844 karyawan pimpinan, sekitar 9.500 mandor, serta 11.000 pemanen.
"Kami merekrut 1.844 orang karyawan pimpinan, 9.500 orang mandor, dan 11.000 orang pemanen. Jadi lebih dari 20.000 orang," kata Abdul Ghani.
Agrinas Palma Nusantara merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang mendapat mandat mengelola areal perkebunan hasil penertiban Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Menurut Abdul Ghani, perusahaan saat ini masih menyelesaikan pembentukan organisasi, setelah memperoleh penugasan mengelola aset perkebunan.
Untuk itu, ia menyebut pemenuhan sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas sebelum peningkatan produktivitas dilakukan.
Ia mengatakan kebutuhan karyawan pimpinan atau manajemen ditargetkan terpenuhi pada Juli 2026, sedangkan perekrutan mandor dan pemanen akan diselesaikan paling lambat Agustus 2026.
Dia menambahkan perusahaan akan memprioritaskan tenaga kerja lokal untuk posisi mandor dan pemanen di masing-masing wilayah operasional.
Abdul Ghani mengatakan penambahan tenaga kerja tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas kebun.
Perusahaan menargetkan produksi tandan buah segar (TBS) terus meningkat hingga akhir tahun mencapai sekitar 5 juta ton atau 100 persen dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.
Berdasarkan paparan perusahaan, proyeksi produksi TBS meningkat dari 173 ribu ton pada Maret 2026 menjadi 302 ribu ton pada Juni 2026, dan diproyeksikan naik menjadi sekitar 549 ribu ton pada Agustus 2026 678 ribu ton pada Desember 2026.














