• Kamis, 1 Oktober 2026
Sajian Utama

Syngenta Ajak Pelaku Sawit Jajaki Bisnis Jagung

Syngenta Indonesia kembali mengadakan Corn Plantation Expo yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada pelaku usaha pertanian dan perkebunan sawit mengenai tantangan dan peluang dalam bisnis jagung. Kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung di Purwakarta dan Indramayu pada 26-27 Mei 2025.

Dalam upaya mencapai swasembada pangan, pemerintah menargetkan peningkatan produksi tanaman pangan, salah satunya melalui peningkatan produksi jagung sebagai salah satu strategi untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, jagung juga memiliki potensi non-pangan seperti bahan pakan ternak maupun energi.

Seperti yang telah disampaikan oleh Kementerian Pertanian di rapat koordinasi virtual pada bulanJanuari lalu, target yang dicanangkan pemerintah adalah penanaman jagung di lahan seluas 1 juta hektare yang tersebar di 19 provinsi antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan Kalimantan Barat.Langkah ini diambil dengan tujuan meningkatkan ketahanan pangan nasional dan mendorong kemandirian petani.

Kementan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lembaga untuk mengembalikan kejayaan swasembada pangan dalam dua hingga tiga tahun ke depan khususnya untuk komoditas strategis seperti jagung. Kunci dari semua ini adalah semangat kolaborasi. Antara pusat dan daerah, antara pemerintah dan petani, serta antar kelembagaan. Semua harus bergandeng tangan untuk memperluas tanam, meningkatkan produksi, dan memastikan efisiensi distribusi pangan.

Saat ini, semakin banyak perusahaan perkebunan sawit yang menunjukkan dukungan terhadap swasembada pangan, baik untuk padi maupun jagung. Besarnya minat perusahaan sawit telah menarik perhatian Syngenta Indonesia untuk memberikan informasi kepada perusahaan perkebunan tersebut.

Seed Marketing Head Syngenta Indonesia, Imam Sujono, menjelaskan bahwa potensi bisnis jagung masih terbuka lebar untuk mencukupi kebutuhan nasional. Merujuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen jagung di Indonesia mencapai 2,55 juta hektare dengan produksi mencapai 15.2 juta ton pada 2024.

“Produksi sebesar ini belum mencukupi kebutuhan nasional, terutama untuk industri pakan ternak (feedmill). Karena kekurangan pasokan inilah, potensi bisnis jagung pun masih luas. Tahun 2024 lalu, impor jagung berkisar 1,5 juta ton,” jelas Imam.

Imam mengapresiasi program pemerintah yang meminta perusahaan perkebunan sawit untuk melakukan penanaman jagung. Penanaman jagung dapat dilakukan di kebun yang akan diremajakan dan dapat menjadi tanaman sela di gawangan kebun Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

“Pelibatan perusahaan perkebunan sawit untuk menanam jagung sangat tepat, mengingat potensi lahan yang masih luas. Jagung juga memiliki peluang bisnis yang sangat besar, seperti halnya sawit. Karena itulah, kami ingin mengedukasi perusahaan tentang tantangan dan peluang dalam industri jagung,” ujar Imam.

Imam juga mengatakan bahwa masih banyak perusahaan yang belum memahami secara mendalam potensi bisnis jagung dan pola Best Management Practices yang dapat mengoptimalkan produktivitas serta profitabilitasnya.

“Tahun ini, Syngenta sebagai salah satu produsen benih jagung di Indonesia, mengundang perusahaan-perusahaan sawit untuk hadir di Corn Plantation Expo 2025. Acara iniakan memberikan banyak manfaat dan pemahaman dalam mengelola bisnis jagung,” jelasnya.

Corn Plantation Expo 2025 akan menjadi forum pertemuan tahunan yang menampilkan beragam inovasi di industri pertanian jagung, termasuk jagung bioteknologi, plot demo pupuk, peralatan mekanisasi, dan perlindungan tanaman. Forum ini juga mendukung program pemerintah yang mendorong agar perkebunan sawit melakukan tumpang sari penanaman jagung.

Corn Plantation Expo 2025 akan berlangsung di Purwakarta dan Indramayu, 26-27 Mei 2025. Pada hari pertama, peserta akan mengikuti Business Meeting yang membahas mengenai peluang bisnis jagung.

Imam menjelaskan bahwa program penanaman jagung sebagai tanaman tumpang sari di kebun sawit sangatlah tepat, mengingat jagung dapat dipanen dalam jangka waktu 3-4 bulan. Namun, produksi jagung juga sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, terutama curah hujan. Tanaman jagung memerlukan curah hujan yang merata dan tidak terlalu tinggi, dengan kisaran antara 807-1200 mm per tahun.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 163)

Artikel Terkait