Pertumbuhan produk UKM berbasis sawit terus meningkat dalam 5 tahun terakhir. Disinilah, media berperan supaya produk UKM sawit dapat dikenal masyarakat untuk memperluas pasarnya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Workshop Jurnalis Promosi UMKM Sawit bertemakan “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045” yang digelar di Serpong, Banten, Kamis (23/10/2025). Kegiatan ini diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia atas dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Majalah Sawit Indonesia dan seluruh mitra penyelenggara Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit. Kolaborasi media dengan pengusaha UKM merupakan bentuk sinergi nyata dalam memperkuat peran UKM dalam ekosistem promosi produk dalam negeri, khususnya sektor sawit yang menjadi salah satu komoditas unggulan nasional,” ujar Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah, Metty Kusmayantie, saat memberikan sambutan.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2023 yang bersumber dari BPS, sektor UMKM berkontribusi lebih dari 61% terhadap PDB nasional, dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja Indonesia. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peran UMKM dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Metty Kusmayantie menjelaskan bahwa UKM sawit berperan penting dalam hilirisasi poduk perkebunan, menghadirkan inovasi produk turunan di bidang pangan, energi, kecantikan, dan kesehatan. Namun, masih banyak produk UKM sawit yang belum dikenal luas oleh masyarakat. Keterbatasan promosi dan eksposur publik menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama.
Dikatakan Metty, Dengan dukungan media, narasi positif tentang UKM sawit dapat tersebar lebih luas. Media memiliki peran penting dalam membangun citra positif produk nasional, memperkuat kepercayaan masyarakat, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap karya pengusaha UKM Indonesia.
“Melalui kegiatan workshop ini, para jurnalis berkesempatan berinteraksi langsung dengan pengusaha UKM sawit, memahami proses produksi, serta melihat potensi besar industri turunan sawit. Saya percaya, dari sinilah akan lahir pemberitaan yang inspiratif, yang dapat meningkatkan apresiasi publik terhadap produk sawit local,” tambahnya.
Acara menghadirkan sejumlah narasumber kredibel dari berbagai sektor, di antaranya Ir. Sahat Sinaga (Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia/DMSI), Puspo Edi Giriwono, Ph.D (Director of SEAFAST Center IPB University), Bachtiar Priyambodo (Kepala Dinas Koperasi dan UKM Tangerang Selatan), Helmi Muhansyah (Kepala Divisi UKMK BPDP), dan Mochamad Husni (Media Relations GAPKI).
Ketua Umum DMSI Sahat Sinaga menegaskan bahwa industri sawit perlu bertransformasi menuju sistem yang lebih modern dan berkeadilan bagi petani kecil.
“Kita harus merevolusi industri ini, bukan hanya dari teknologi, tapi juga dari mentalitas. Petani harus menjadi subjek, bukan hanya objek,” ujar Sahat.
Ia juga mendorong pengembangan koperasi modern berbasis teknologi dan penerapan proses dry process beremisi rendah agar petani memperoleh nilai tambah lebih besar.
Sahat bahkan memperkirakan, dengan inovasi dan pemberdayaan petani, omzet sawit nasional bisa mencapai Rp2.000 triliun pada 2029.
“Palm oil ini pohon ajaib — menghasilkan dua jenis minyak dari satu tanaman. Jika koperasi dan UKM kuat, sawit bisa menjadi fondasi ekonomi masa depan Indonesia,” urainya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Tangerang Selatan Bachtiar Priyambodo menambahkan bahwa sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi daerah.
“Pertumbuhan ekonomi Tangsel mencapai 5,02 persen, dengan tingkat kemiskinan terendah di Banten, yakni 2,36 persen. Salah satu pendorongnya adalah UMKM, termasuk yang mengembangkan produk berbasis sawit,” ujarnya.
Dari sisi industri, Media Relations GAPKI Mochamad Husni menekankan pentingnya sinergi antara asosiasi, media, dan pelaku usaha agar produk UMKM sawit lebih dikenal masyarakat.
“Sawit digunakan hampir di setiap aspek kehidupan manusia — dari sabun, makanan, hingga tinta printer. Namun, masih banyak produk UMKM yang belum terekspos,” katanya.
Husni mengungkapkan, studi Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) tahun 2022 menunjukkan daerah sentra sawit tumbuh lebih cepat dibandingkan wilayah non-sentra sawit.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 169)














