Hilirisasi pertanian atau yang juga dikenal dengan pengembangan industri hilir pertanian atau agroindustry, merupakan pendalaman dan perluasan industri-industri pengolahan hasil pertanian untuk memperoleh nilai tambah (value added) yang lebih besar dan lebih beragam.
Memasuki usia 80 tahun, Prof. Dr. Bungaran Saragih, M.Ec menguraikan kembali pemikirannya dalam membangun sektor agribisnis di Indonesia. Gagasan ini pembangunan agribisnis ini menjadi sangat penting untuk merespon target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen di era pemerintahan Presiden Prabowo.
Dikatakan Prof Bungaran, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut diperlukan Indonesia agar pada saat 100 tahun Negara Kesatuan Repubulik Indonesia tahun 2045, dapat menjadi Top-10 ekonomi dunia dengan PDB sekitar USD 6.988 milyar dengan pendapatan per kapita atau sekitar USD 21 ribu atau naik sekitar4 kali lipat dari saat ini.
“Selain pertumbuhan ekonomi 8 persen per tahun, pemerintahan Presiden Prabowo juga menargetkan pencapaian Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi,” ujar Prof. Bungaran sebagaimana dikutip dalam pidatonya Diskusi Nasional bertemakan "80 Tahun Bungaran Saragih: Revisit Pemikiran Agribisnis Sebagai Dasar Strategi ReIndustrialisasi", pertengahan April 2025.
Prof. Bungaran mengungkapkan target ketahanan pangan dinilai makinurgent diwujudkan. Mengingat, kebutuhan pangan Indonesia masih bertumbuh terus dan sampai saat ini sebagian bahan pangan kebutuhan domestik masih diimpor seperti kedelai, gandum, gula, dan susu.
“Selain itu, ketahanan energi juga dijadikan target nasional. Selain karena kebutuhan energi masih bertumbuh terus, perlu membangun kemandirian energi yang ditopang energi baru terbarukan (EBT) untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan memelihara kelestarian lingkungan,” katanya.
Dengan target-target strategi stersebut yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana strategi industrialisasi yang ditempuh Indonesia kedepan agar pertumbuhan ekonomi dicapai sekitar 8 persen per tahun? Bagaimana dengan ketahanan pangan dan energi dapat tercapai?
Dijelaskan, Prof. Bungaran, untuk membangun basis pertumbuhan ekonomi 8 persen, pemerintah mendorong industrialisasi yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan hilirisasi. Ada hilirisasi tambang, hilirisasi migas dan hilirisasi pertanian.
“Pada kesempatan ini, saya akan fokus memaparkan hilirisasi pertanian dalam arti luas karena hilirisasi pertanian yang mampu mewujudkan ketahanan pangan dan energi (sebagian) serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan daerah dan pemerataan pendapatan,” jelasnya mengawali penjelasannya.
“Hilirisasi pertanian atau yang juga dikenal dengan pengembangan industri hilir pertanian atau agroindustry, merupakan pendalaman dan perluasan industri-industri pengolahan hasil pertanian untuk memperoleh nilai tambah (value added) yang lebih besar dan lebih beragam. Serta menghasilkan produk berbasis pertanian yang lebih bermutu, lebih beragam dengan aplikasi yang lebih luas,” sambung pria yang usianya tak lagi muda namun tetap semangat ketika berbicara soal pertanian.
Hilirisasi pertanian sejak lama berlangsung
Hilirisasi pertanian di indonesiatelah lama berlangsung. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya ribuan produk baru yang dapat dinikmati masyarakat baik produk pangan, produk biomaterial, maupun produk bioenergi.
Misalnya, dalam produk bioenergi sudah berhasil menghasilkan dan menikmati biodiesel sawit, dan segera menyusul bensin sawit, avtur sawit, diesel sawit, bioethanol dan lain-lain pengganti energi fosil.
“Meskipun hilirisasi sudah berlangsung lama, secara agregat hilirisasi pertanian hingga saat ini masih terlalu dangkal,”ujar Prof. Bungaran.
Menurutnya, hal ini tercermin dari rasio nilai tambah sektor industri Agro dengan sektor Pertanian tahun 2023 yang masih bergerak di sekitar angka satu.
“Melalui hilirisasi pertanian yang makin dalam akan dapat memperoleh nilai tambah 3-10 kali dari nilai tambah sektor pertanian. Dengan nilai tambah sektor pertanian pada tahun 2023 sekitar Rp 1464 Triliun, seharusnya dapat menghasilkan nilai tambah hilir setidaknya Rp 4000 Triliun sampai dengan Rp 14.000 Trilyun,” jelas pria kelahiran Pematang Siantar ini.
Hilirisasi pertanian atau disebut juga pengembangan downstream-agribusiness ditujukan baik untuk konsumsi domestik, promosi ekspor maupun subsitusi impor.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 162)














