• Rabu, 30 September 2026
Oase

Strategi Menjaga Reputasi Sawit

Fenny Sofyan memandang kampanye negatif sawit yang masif terjadi baik di dalam negeri ataupun luar bukan semata-mata bermotif perang dagang. Menurutnya kampanye negatif tersebut sejatinya justru upaya menguasai dan bahkan memiliki industri sawit Indonesia.

“Sawit yang tumbuh di sini subur sebenarnya sulit disaingi [minyak nabati non sawit]. Tapi agenda besarnya adalah saya yakini orang-orang, negara-negara berkepentingan punya roadmap jauh kedepan terhadap sawit. Goals-nya komoditas sawit Indonesia harus dikuasai,” ujar Fenny yang sudah setahun ini menjabatVice President Investor Relations & Public Affairs PT. Astra Agro LestariTbk dalam wawancara khusus dengan Majalah Sawit Indonesia pada pertengahan Juli 2024.

Fenny mengatakan pihak-pihak yang menginginkan sawit tentunya mempunyai tahapan strategi, dari jangka pendek, menengah, hingga panjang dalam menguasai sawit. Ia tidak percaya nantinya, sawit akan dihancurkan, dibuat terbengkelai atau seluruhnya diserahkan kemasyarakat yang kemudian terjadi konflik sosial.

“Enggak mungkin. Tapi bagaimana sawit ini dikuasai oleh orang-orang negara yang berkepentingan tadi. Karena mereka tidak bisa menanam sawit di sana,” ujar wanita kelahiran1985 ini.

Wanita yang akrab disapaTeh Fenny ini tumbuh dari latar belakang keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan tujuan mengikuti jejak sang Ayahanda, Fenny pun masuk Jurusan Administrasi FISIP Universitas Padjajaran. Namun, tak seperti ketiga kakaknya yang menjadi PNS, Fenny memilih dunia pers di awal karirnya. Sekitar 2008, wanita kelahiran Cianjur itu bergabung dengan salah satu TV swasta nasional, TV ONE.

“Basic-nya aku seneng menjadi pembawa acara (MC). Waktu itu aku nge-MC di bursa kerja, yang diadain BEM gituya. Lalu ada stasiunTV One, wapemrednya nawarin, lalu saya kirim biodata diri. Lanjut wawancara terus masuk panggung live report in English, akhirnya selamat keterima di Jakarta,” ungkapnya tak menyangka.

Fenny sebenarnya punya harapan lebih di TV ONE sebagai presenter. Namun, kala itu presenter berhijab dinilai tidak marketable. Namun, menjadi reporter lapangan yang akhirnya membuat ia mulai mengulas isu-isu soal industri sawit.

“Pada 2011 waktu itu dapet liputan program imperium, semacam dokumenter ekonomi begitu. Kalau belajar jurnalis itukan di dokumenter, kalau di daily news bener-bener daily. Kalau di dokumenterkan nganalisis, ngumpulin data, pro dan kontra,” jelasnya.

Kala itu, Fenny bercerita jika dalam liputannya terkendala tidak ada satu pun perusahaan yang bersedia kebunnya disorot kamera media. Namun, diaakhirnya ditawari oleh Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Joko Supriyono yang saat itu selaku Sekjen GAPKI untuk meliput kebun milik Astra.

“[Dalam program Imperium] Yang diwawancarai itu Pak Joko Supriono, Sekjen GAPKI waktu itu. saya nanya, ‘Pak Joko, tidak ada perusahaan perkebunan yang yang ngasih izin liputan. Akhirnya ditawarin ke kebun Astra, ah pasti kebunnya kecil, Astra kan motor, hehe,” kenang Fenny berseloroh.

Fenny juga kemudian bercerita bagaimana dia akhirnya menjadi bagian dari emiten berkode AALI tersebut. Dia mengaku, waktu itu manajemen perusahaan menghubunginya untuk posisi Senior Analis Media.

Di awal perjalanan karirnya bersama Astra Agro sebenarnya divisi komunikasi belum menjadi perhatian besar. Namun, perubahan cukup signifikan terjadi saat Pak Santosa menjabat sebagai Presiden Direktur Astra Agro. Menurut Fenny, Pak Santosa mempunyai perhatian besar terhadap komunikasi. Karena itulah dikembangkan bagian internal dan eksternal di departemen komunikasi.

“Organisasinya dinaikkan menjadi General Manager. Tadinya top leadernya hanya manager,” ucapnya.

Pada 2018, Fenny mendapat amanah menjadi Manager Internal Komunikasi perusahaan. Dia mengatakan, departemen komunikasi di sebuah perusahaan biasanya menjadi divisi lapis kedua.

“Sometimes orang berpikir internal relation dalam term of communication second layer gak sih. Karena internal relation itu fokusnya karyawan,” jelas Fenny.

Namun dalam meniti karir, Fenny punya prinsip bahwa pekerjaan apapun yang menentukan nilainya adalah diri sendiri.

“Jadi internal relation, aku mau menjadi penting untuk Astra Agro. Aku cari seribu satu alasan dan tidak termakan dogma bahwa internal relation itu second layer,” ujarnya.

Fenny menuturkan wabah Covid-19 yang melanda Indonesia di awal 2020 membawa titik balik baginya. Divisi komunikasi yang dianggap sebelah mata, setelah pandemi menjadi amat vital bagi perusahaan. Pihak managemen yang tidak bisa turun kelapangan pun akhirnya berkomunikasi dengan para karyawan lewat media virtual sehingga visi misi perusahaan tetap tersampaikan secara baik.

“Nah berkah pandemi waktu itu kita tidak bisa kemana-mana, bleesing in disguise lah buat aku. Lalu dikembangkan dengan cara virtual zoom. That’s why internal relation menjadi penting, bagaimana orang itu saling terikat satu sama lain. Itu ada medianya yang kita buat,” ujarnya.

Setelah itu dampaknya sangat besar bagi Fenny dan divisi komunikasi di Astra Agro. Setiap produk atau acara yang dibuat oleh Astra Agro, tidak akan pernah bisa terlaksana tanpa persetujuan departemen komunikasi. Makanya departemen pun berubah dari internal communication menjadi communication. Di dalamya internal, branding dan digital communication.

“Dari sana aku bilang kita boleh jadi orang yang dianggap sebelah mata dalam komunikasi tapi sebenernya itu pilihan kita. Kita mau seperti itu atau kita mau menciptakan our value,” kata Fenny yang menjabat Ketua Kompartemen Media Relation Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI).

Begitu pun saat di GAPKI, Fenny tak menyangka saat ini dirinya menjadi jembatan suara informasi organisasi di tingkat nasional itu.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 153)

Artikel Terkait