• Rabu, 7 Oktober 2026
Oase

Strategi Hadapi Iklim Kering di Perkebunan Sawit

Persoalan dampak kekeringan terhadap tanaman kelapa sawit telah menjadi perhatian serius peneliti. Adalah Reni Subawati Kusumaningtyas, peneliti SMART Research Institute yang meneliti dampak kekeringan dan solusinya bagi tanaman sawit.

Reni Subawati Kusumaningtyas menjelaskan kekeringan berdampak buruk, terutama terkait produktivitas kebun perusahaan. Hal itu tentu mesti ditemukan jalan keluarnya sesegera mungkin.

“Masih jarang orang/peneliti bekerja di bidang ini, (khususnya) di sawit. Karena jarang itu, makanya kita harus mengembangkan metode sendiri, soal itu misalnya dari CIRAD banyak dari mereka kemudian mengembangkan disitu,” ujar periset yang sudah 21 tahun mengabdikan diri di PT SMART itu kepada Majalah Sawit Indonesia, Jumat (14/2/2025).

Reni mengatakan, meriset apapun termasuk tanaman sawit harus punya komitmen yang tinggi. Hal itu dia buktikan dengan bekerja penuh di sekitar kebun sawit yang menjadi objek peneltian.

“Tidak mungkin kita riset kalau berada di kejauhan,” kata Reni yang tinggal di area perkebunan sawit milik PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbkdi Riau.

Hasilnya, Reni pun beserta timnya di SMART Research Institute kemudian mengembangkan metode seleksi tanaman berbasis Drought Factor Index (DFI) dengan memanfaatkan teknologi Chlorophyll Fluorescence. Teknik ini memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi tanaman yang memiliki tingkat toleransi lebih tinggi terhadap kondisi kekeringan dengan cara yang lebih cepat dan efisien.

Setelah melakukan penelitian selama lebih dari satu dekade, tim peneliti berhasil menguji 1.400 progeni dari 113 famili bibit sawit. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan 14 kandidat varietas toleran, dengan dua varietas unggulan yakni SD14 dan SD63.

Hasil uji lapangan di Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa kedua varietas ini mampu menjaga tingkat produksi lebih baik dibandingkan varietas konvensional. Pada kondisi kekeringan ekstrem seperti yang terjadi pada 2014 dan 2015, SD14 mampu meningkatkan hasil produksi 14-22%, sementara SD63 meningkatkan hasil panen 13-27% dibandingkan tanaman sawit yang lebih sensitif terhadap kekeringan.

Meski demikian, varietas ini tidak sepenuhnya tahan terhadap kekeringan. Reni menjelaskan bahwa SD14 dan SD63 dikategorikan sebagai varietas dengan toleransi sedang (intermediate tolerant), yang berarti bahwa meskipun tetap mengalami penurunan produksi saat kekeringan, angkanya jauh lebih rendah dibandingkan varietas biasa.

“Kami tidak bisa menjanjikan varietas yang 100% tahan kekeringan. Namun, dengan menggunakan varietas ini, penurunan hasil produksi akibat kekeringan dapat ditekan secara signifikan,” jelasnya Reni yang kajian magistenya berfokus di bidang Pigmen tersebut.

Dia mengaku, kajiannya saat studi di kuliah mengenai klorofil dan fotosintesis bermanfaat banyak saat masuk ke dunia kerja, khususnya sebagai periset di bidang kelapa sawit. “Saat bekerja di di SMART mulai aktif melakukan soal fotosintesis,” ungkapnya.

Saat ini, Reni melanjutkan bahwa SD14 telah menjalani sidang pelepasan varietas dan mendapat rekomendasi dari Tim Penilai Pelepasan Varietas (TPPV). Proses administrasi final masih berlangsung, dan diharapkan varietas ini segera mendapat persetujuan resmi dalam waktu dekat.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 161)

Artikel Terkait