JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti pengembangan industri hilir kelapa sawit nasional yang dinilai masih jalan di tempat (mandek) jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia. Meskipun Indonesia memegang predikat sebagai produsen CPO terbesar dengan ketersediaan bahan baku melimpah, produktivitas dan efisiensi industri hilir sawit domestik dinilai masih kalah bersaing.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
“Hilirisasi sawit ini kelihatannya agak mandek. Produksi fatty alcohol kita lagi ada masalah dengan ekspor ke Amerika Serikat. Tapi jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, produktivitas mereka jauh lebih efisien dan lebih tinggi dibandingkan kita,” ujar Faisol.
Poin-poin utama tantangan ekspor, urgensi diversifikasi produk turunan high-value, serta dorongan sinergi bersama Kadin Indonesia meliputi:
- Kendala Perdagangan Ekspor: Salah satu pemicu perlambatan sektor oleokimia hilir adalah hambatan tarif dan regulasi ekspor produk fatty alcohol Indonesia menuju pasar Amerika Serikat.
- Diversifikasi Produk Lebih dari Sekadar Biofuel: Wamenperin menggarisbawahi bahwa hilirisasi sawit nasional selama ini terlalu berfokus pada program bahan bakar nabati. Meski mandatori B50 (campuran 50% biodiesel dan 50% solar) yang berjalan sejak 1 Juli 2026 merupakan capaian penting, Indonesia dinilai terlambat mengeksplorasi produk turunan bernilai tambah tinggi (high-value fine chemicals).
- Potensi Riset & Komoditas Turunan Berkemajuan: Industri sawit nasional didorong untuk memperdalam diversifikasi ke produk-produk bernilai tinggi seperti:
- Gliserin: Bahan baku farmasi dan kosmetik.
- Surfaktan: Bahan baku utama detergen dan pembersih industri.
- Karoten: Vitamin A dan nutrisi berharga tinggi.
- Ajak Kadin Jadikan Hilirisasi Sawit Agenda Prioritas: Faisol mengajak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk berkolaborasi secara intensif bersama pemerintah guna memetakan ulang rantai pasok dan teknologi pengolahan agar Indonesia tidak hanya menjadi penyedia bahan mentah, tetapi juga pemain utama produk hilir sawit tingkat dunia.
"Sebenarnya dari sawit itu potensinya luar biasa. Kalau ini bisa jadi agenda prioritas di Kadin, saya kira kita bisa bersama-sama menjadikan subsektor ini sebagai hilirisasi paling optimal dan paling sukses, karena seluruh bahan mentahnya ada di Tanah Air kita," pungkas Faisol.
Sumber: ekonomi.bisnis.com














