• Rabu, 7 Oktober 2026
Berita Terbaru

 Solidaridad Tawarkan Pertanian Regeneratif sebagai Keberlanjutan Industri Sawit Indonesia

Kubu Raya, SAWIT INDONESIA — Di tengah tantangan stagnasi produktivitas sawit rakyat yang terjadi, Solidaridad Indonesia menjawab isu tersebut dengan menawarkan solusi berkelanjutan berbasis sains: pertanian regeneratif. Dalam event terkait produktivitas dan industri terbesar di Kalimantan Barat, Indonesian Palm Oil Smallholders Conference (IPOSC) & Expo 2025, Solidaridad tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga menjadi lembaga masyarakat sipil/CSO yang mendorong perubahan praktik pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan.

Konferensi yang mengangkat tema "Sinergitas Pemangku Kepentingan Mengatasi Stagnan Produktivitas Sawit Rakyat" menjadi ajang bagi Solidaridad untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan dan teknologi yang selama ini dihadapi petani swadaya.

Fokus utama yang ditekankan Solidaridad adalah memandang tanah bukan sekadar media tanam, melainkan sebuah ekosistem hidup yang sangat penting bagi tanaman sawt untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga menghasilkan produktivitas yang optimal bagi petani. Melalui bahasan bertajuk "Inovasi Pupuk Hayati dan Kompos sebagai Pondasi Pertanian Regeneratif untuk Produktivitas Sawit Berkelanjutan" Solidaridad mengupas tuntas pendekatan ilmiah di balik solusi ini.

"Stagnasi produktivitas bukanlah isu yang bisa diselesaikan dengan solusi jangka pendek. Ketergantungan pada input kimia, sebagai dampak dari Revolusi Hijau , tanpa diimbangi dengan pemulihan kesehatan tanah hanya akan menciptakan lingkaran masalah baru," ujar Yeni Fitriyanti, Country Manager Solidaridad Indonesia. "Kami hadir di IPOSC 2025 untuk menunjukkan bahwa investasi terbaik yang bisa dilakukan petani adalah menjaga kesehatan tanah, sebagai investasi jangka panjang bagi petani, yang hidupnya tergantung sumberdaya lahan. Dengan mengadopsi praktik regeneratif, kita tidak hanya meningkatkan kesehatan tanah dan produktivitas lahan pertanian, tetapi juga membangun benteng pertahanan alami terhadap perubahan iklim dan serangan hama. Ini adalah tentang memberdayakan petani dengan ilmu pengetahuan untuk masa depan yang lebih tangguh dan sejahtera."

Keterbatasan akses terhadap informasi dan teknologi menjadi salah satu penghambat utama bagi petani sawit swadaya untuk meningkatan produktivitas mereka. Oleh karena itu, Solidaridad berinisiatif menjembatani kesenjangan tersebut dengan membawa pengetahuan praktis yang tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman, tetapi juga membangun ketahanan kebun sawit terhadap perubahan iklim dan serangan hama.

Melalui praktik tumpang sari (intercropping), petani didorong untuk menanam tanaman sela bernilai ekonomis seperti jagung, kacang-kacangan, atau hortikultura di antara barisan sawit muda, untuk memperoleh pendapatan alternatif tetap, sebagai jaring pengaman ekonomi. Pendekatan yang didukung penelitian ilmiah, menunjukkan bahwa tumpang sari kelapa sawit dengan tanaman hortikultura menguntungkan, tidak hanya dari sisi finansial. Tetapi model ini merupakan bagian dari pondasi pertanian regeneratif yang bertujuan memulihkan kesehatan ekosistem tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dan membangun ketahanan kebun terhadap perubahan iklim, sejalan dengan tema konferensi untuk mengatasi stagnasi produktivitas sawit nasional.

Sebagai bagian dari komitmen edukasi, Solidaridad juga membuka booth edukatif dalam arena konferensi dan pameran yang berlangsung selama dua hari. Yang dihadiri lebih dari 1.000 peserta dan pengunjung dari berbagai daerah, khususnya sentra kelapa sawit di Kalimantan Barat.

Solidaridad sendiri telah melakukan berbagai kegiatan pendidikan peningkatan kapasitas petani sawit swadaya di Kalimantan Barat sejak tahun 2012 hingga 2024 dan telah melatih sebanyak lebih dari 19.785

petani yang tersebar di wilayah Kapuas Hulu, Melawi, Sintang, Sekadau, Sanggau, Landak, Mempawah, Sambas, dan Bengkayang serta tahun ini memiliki target melatih kurang lebih 9.000 petani. Intervensi Solidaridad meliputi 10 kabupaten dan 425 desa pada wilayah tersebut. Pelatihan dasar yang diberikan melalui Sekolah Lapangan (SL) termasuk praktik pertanian terbaik atau good agricultural practice (GAP), praktik manajemen terbaik (BMP) untuk literasi keuangan dan manajemen, platform kerjasama multipihak (MSP), termasuk pembuatan pupuk organik cair (POC) dan kompos, serta praktik pertanian regeneratif.

Acara IPOSC 2025 sendiri dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari petani sawit, perusahaan perkebunan, koperasi unit desa, perwakilan pemerintah pusat dan daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga media.

Artikel Terkait