• Selasa, 29 September 2026
Berita Terbaru

Smart Farming Cara Menarik Minat Generasi Muda Terjun ke Dunia Pertanian

JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Meningkatnya populasi penduduk berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan produksi dan kualitas pangan serta bahan pertanian. Maka, melalui Simposium Praktisi dan Periset Ekonomi (Pareto) 2024 permasalahan tersebut diulas dalam salah satu diskusi. Umi Mu’awanah, Kepala Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN mengungkapkan perlunya banyak masukan dan diskusi, serta tukar menukar data untuk menjawab tantangan tersebut.

“Saran dan masukan ini bisa menjadi satu rumusan rekomendasi kebijakan guna menentukan langkah – langkah mencapai swasembada pangan,” ungkap Umi dalam sesi diskusi Simposium Praktisi dan Periset Ekonomi (Pareto) 2024, yang digelar pada Kamis (28/11), di Gedung Widya Graha BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo Jakarta.

Dalam satu sesi diskusi, dibahas mengenai smart farming sebagai salah satu cara untuk menarik minat generasi muda terjun ke dunia pertanian. Graha Abadi Pasaman, Duta Petani Milenial menyampaikan bahwa smart farming akan meningkatkan efisiensi sumber daya alam khususnya tanah, air dan kelestarian alam. Di samping itu juga akan meningkatkan efisiensi sumber daya manusia dengan memanfaatkan mesin pertanian dan teknologi.

“Kunci utama smart farming adalah data yang terukur berdasarkan sensor yang ada di lahan dan yang mengkafer lahan pertanian,” katanya. Selanjutnya, ada beberapa aspek yang perlu disiapkan untuk menarik generasi-Z agar mau bergabung ke bidang pertanian. Antara lain dengan pendampingan, tersedianya sarana, transformasi rakyat, konsolidasi pemangku kebijakan, dan inovasi teknologi.

Moh. Amir Syarifuddin dari Bina Standarisasi Kompetensi dan Program Pelatihan – Kementerian Ketenagakerjaan memberikan strategi pengembangan tenaga kerja terampil pada industri pangan. Dijelaskannya, dukungan Kementerian Ketenagakerjaan terhadap sektor pertanian di antaranya adalah menyediakan platform SIAPKerja pada program Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Kementerian Ketenagakerjaan juga membuat program dan materi pelatihan dengan kejuruan pertanian, lalu platform terkait Balai Latihan Kerja dan Lembaga Pelatihan Kerja, serta informasi terkait lowongan pekerjaan.

Melalui forum ini, Amir menyampaikan data program pelatihan dan skema sertifikasi kompetensi pada sektor pertanian. Hal ini dalam bentuk data tabular yang meliputi tiga puluh judul program dari Kementerian Ketenagakerjaan dan tiga belas judul program dari Kementerian Pertanian.

Sementara itu, Devi Erna Rachmawati, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pertanian mengulas materi strategi membangun kewirausahaan dan ekosistem perusahaan rintisan pada industri pangan.

Erna mengulas tiga hal penyebab hasil pertanian menurun. Yaitu penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang menyebabkan tanah rusak (pH tanah asam, perubahan iklim drastis yang mengganggu proses fotosintesa tanaman tanpa air yang cukup atau tanpa sinar matahari bagus, lalu hama, bakteri, dan virus yang membuat gagal panen.

Erna memberi solusi untuk persoalan tersebut. Yakni pembenahan tanah, pemberian nutrisi/pupuk teknologi nano yang dapat diserap secara instan oleh tanaman tanpa melalui proses fotosintesa sehingga tanaman tidak kekurangan gizi dalam kondisi iklim apapun, kemudian memberikan nutrisi yang dapat meningkatkan imunitas (daya tahan tanaman) sehingga serangan hama/virus/bakteri dapat teratasi selain menggunakan strategi pestisida organik.

Jonni Mahroza, Rektor Universitas Pertahanan memaparkan terkait strategi integrasi ketahanan pangan dan target swasembada pangan dalam sistem pertahanan semesta. Dia menjabarkan tiga langkah strategis yang terintegrasi. Pertama, ekstensifikasi dengan melakukan pembukaan lahan secara terbatas di daerah dengan kesesuaian komoditas yang tinggi. Kedua, intensifikasi lahan basah yang didukung oleh sistem irigasi yg baik. Ketiga, diversifikasi yang menghasilkan bahan mentah dan produk olahan serta meningkatkan Agrowisata.

Sumber: brin.go.id

Artikel Terkait