• Senin, 5 Oktober 2026
Berita Terbaru

IPB Training-BPDP-Ditjenbun Dorong Produktivitas Sawit 176 Pekebun OKU dari Bibit hingga Panen

PALEMBANG, SAWIT INDONESIA — Produktivitas sawit tidak dimulai saat tandan buah segar (TBS) dipanen dan ditimbang. Hasil yang diperoleh pekebun sesungguhnya telah ditentukan jauh sebelumnya—mulai dari pemilihan bibit, persiapan lahan, pemeliharaan, pemupukan hingga ketepatan panen.

Cara pandang inilah yang diperkuat IPB Training bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) melalui Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit bagi 176 pekebun Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, pada 29 September–4 Oktober 2026.

Pelatihan yang berlangsung dalam enam angkatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman pekebun bahwa produktivitas merupakan hasil dari seluruh mata rantai budidaya, bukan hanya ditentukan ketika tanaman memasuki masa panen.

Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, MM., CPC, mengatakan budidaya sawit harus dipahami sebagai rangkaian yang saling berkaitan. Bibit unggul menjadi fondasi, tetapi potensi genetik tanaman tidak akan optimal tanpa pengelolaan kebun yang tepat.

“Bibit unggul produktivitasnya sudah diteliti di laboratorium dan dibuktikan di lapangan,” ujar Sigit.

Artinya, produktivitas bukan sesuatu yang baru dikejar ketika tanaman menghasilkan buah. Potensinya telah dibangun sejak pembibitan dan terus dipengaruhi keputusan pekebun pada setiap tahapan budidaya.

Peserta pun mempelajari proses budidaya secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan tanam, pembibitan, persiapan lahan, konservasi tanah dan air, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM), pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit, hingga panen.

Setiap tahapan saling berkaitan. Kesalahan pada tahap awal dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

Pada persiapan lahan, misalnya, pekebun tidak hanya belajar membuka areal, tetapi juga mempelajari kesesuaian lahan, teknik lining atau pengajiran, pengukuran pH tanah serta konservasi tanah dan air.

Materi tersebut dilengkapi praktik langsung. Peserta mencoba penggunaan ponjok dan melakukan pengukuran pH tanah. Pada tahap pemeliharaan, mereka mempelajari pengelolaan piringan, gawangan dan pasar pikul, termasuk pengendalian gulma pada TBM maupun TM.

Pemupukan Harus Tepat, Bukan Sekadar Banyak

Pemupukan menjadi salah satu titik penting dalam menjaga produktivitas. Peserta mempelajari gejala kekurangan unsur hara, prinsip pemupukan serta konsep 5T agar aplikasi pupuk lebih tepat dan efisien.

Pendekatan serupa diterapkan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman. Pekebun tidak hanya diarahkan pada penggunaan pestisida, tetapi juga memahami prinsip pengendalian hama terpadu, mengenali gejala serangan serta melakukan pemantauan dan deteksi dini.

Dengan bekal tersebut, pekebun diharapkan mampu mengambil keputusan berdasarkan kondisi tanaman, bukan sekadar menjalankan rutinitas kebun.

Di ujung proses, teknik panen juga menjadi penentu. Pengenalan tingkat kematangan buah dan penanganan hasil menjadi penting agar potensi produksi tanaman dapat diterjemahkan menjadi TBS berkualitas dan bernilai ekonomi.

72,9 Ribu Hektare Sawit OKU

Kabupaten OKU memiliki sekitar 72,9 ribu hektare perkebunan kelapa sawit, dengan sebagian besar areal dikelola perkebunan rakyat. Luasan tersebut menunjukkan besarnya potensi sekaligus ruang untuk meningkatkan produktivitas melalui perbaikan praktik budidaya.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten OKU, Ir. Hendri Eka Putra, S.P., M.Si., IPM, menyebut pelatihan bagi pekebun OKU telah dilaksanakan dalam tiga gelombang dengan total 451 peserta. Pemahaman terhadap keseluruhan proses budidaya penting agar pekebun melihat kebun sebagai satu sistem produksi, bukan kumpulan pekerjaan yang berdiri sendiri.

Bibit yang baik harus diikuti pengelolaan lahan yang tepat. Tanaman membutuhkan pemeliharaan dan pemupukan sesuai kebutuhan. Hama dan penyakit harus dikendalikan dengan benar. Ketika memasuki fase produksi, panen juga harus dilakukan berdasarkan tingkat kematangan dan kualitas buah.

Pemahaman tersebut diperkuat melalui kunjungan lapang ke PT Duta Reka Mandiri.

Di lokasi tersebut, peserta melihat sekaligus mempraktikkan sejumlah kegiatan teknis, antara lain penggunaan egrek, kastrasi, pengelolaan piringan serta penggunaan alat dan mesin pertanian.

Pembelajaran lapang memberikan gambaran nyata terhadap materi yang sebelumnya dipelajari di kelas. Pekebun dapat melihat bagaimana prinsip budidaya diterapkan sekaligus membandingkannya dengan praktik yang selama ini dilakukan di kebun masing-masing.

Pada akhirnya, produktivitas sawit tidak ditentukan oleh satu faktor. Benih yang baik, lahan yang sesuai, pemeliharaan tepat, pemupukan efisien, pengendalian hama dan penyakit serta panen yang benar harus berjalan sebagai satu kesatuan.

Produktivitas tidak perlu menunggu saat TBS dipanen dan ditimbang. Produktivitas dibangun sejak bibit hingga buah. Setiap keputusan di sepanjang mata rantai budidaya ikut menentukan hasil akhir kebun.

Artikel Terkait