JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi formulasi retardan api berbasis bahan alam yang dinamai Singkong-APP. Teknologi ini memadukan pati (starch) dari singkong dan amonium polifosfat (APP) guna menjawab tantangan spesifik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut yang kerap merambat di bawah permukaan (smouldering) dan memicu kobaran api susulan.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, menjelaskan bahwa pengembangan Singkong-APP difokuskan untuk memutus rantai pembakaran hingga level molekuler di bawah permukaan tanah.
"Kebakaran pada lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan dan menyisakan panas. Ketika terdapat celah masuk oksigen, pembakaran dapat kembali muncul di permukaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan pendekatan pemadaman," jelas Julinton dalam diskusi di Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta (6/10/2026).
Poin-poin utama mekanisme kerja molekuler, keunggulan hasil uji coba, serta tantangan riset Singkong-APP meliputi:
- Mekanisme Pembentukan Lapisan Char: Saat terkena panas, APP terdekomposisi menghasilkan asam fosfat yang bereaksi dengan pati singkong membentuk lapisan char (lapisan arang pelindung). Lapisan ini bertindak sebagai benteng yang menyelimuti media terbakar, menghambat transmisi panas, serta menutup pasokan oksigen dari luar.
- Penambahan Agen APG: Formulasi ini melarutkan alkyl polyglucoside (APG) untuk menurunkan viskositas (kekentalan), sehingga retardan dapat disemprotkan dengan lancar dan meresap jauh ke lapisan dalam gambut.
Hasil Pengujian Efisiensi vs Air: Pada media simulasi karhutla gambut:
- Konsumsi Cairan: Singkong-APP hanya membutuhkan 65 liter, jauh lebih hemat dibanding penggunaan air biasa yang menghabiskan 120 liter.
- Waktu Pemadaman: Eksekusi Singkong-APP tuntas dalam 15 menit, sedangkan air memerlukan waktu hingga 23 menit 35 detik.
- Penurunan Suhu & Titik Api: Pascapenetrasi, suhu media Singkong-APP anjlok hingga 46 °C (dibanding air yang masih 117,5 °C). Setelah 60 menit, Singkong-APP mencatatkan nol titik api/asap, sementara media air masih menyisakan 6 titik api aktif.
- Tantangan Sintesis & Scale-Up: Mengingat bahan APP belum diproduksi secara lokal, peneliti BRIN melakukan sintesis independen menggunakan asam fosfat dan urea. Langkah riset selanjutnya berfokus pada pengembangan reaktor pilot dan uji coba skala luas di lapangan secara aman.
Inovasi pemadaman berbasis bahan pangan lokal ini menjadi angin segar bagi penanganan karhutla gambut nasional, mempercepat pemadaman residual sekaligus menekan penggunaan air di wilayah-wilayah krisis pasokan.
Sumber: brin.go.id














