• Kamis, 1 Oktober 2026
Berita Terbaru

Sinergi GAPKI dan PWI: Perkuat Jurnalisme Berbasis Fakta untuk Kawal Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Yogyakarta, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit nasional kembali menjadi sorotan strategis, kali ini melalui penguatan sinergi antara pelaku usaha dan insan pers. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar Workshop Jurnalistik GAPKI-PWI di Yogyakarta, sebagai langkah taktis untuk memperdalam pemahaman media mengenai tata kelola industri sawit yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan menjadi motor penggerak perekonomian nasional.

Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi perhelatan memiliki makna simbolis tersendiri. Kendati tidak memiliki lahan perkebunan sawit secara langsung, masyarakat di Kota Gudeg ini tetap menikmati berbagai produk turunan sawit dalam kehidupan sehari-hari, termasuk industri batik dan kebutuhan esensial lainnya.

Sorotan Regulasi Karhutla dan Tantangan Hukum Korporasi

Dalam forum tersebut, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, secara terbuka menyoroti berbagai tantangan operasional di lapangan, khususnya terkait penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ia menegaskan bahwa anggota GAPKI selama ini aktif terjun langsung memadamkan api, bahkan hingga ke luar area konsesi perusahaan di berbagai wilayah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Riau.

Kendati demikian, dunia usaha masih dihadapkan pada beratnya beban hukum akibat ketentuan Strict Liability (tanggung jawab mutlak) berdasarkan Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.

“Apabila terjadi kebakaran, sekalipun titik api berasal dari luar dan masuk ke dalam konsesi, perusahaan otomatis dianggap lalai. Padahal tidak mungkin ada perusahaan maupun masyarakat yang sengaja membakar asetnya sendiri. Kami mengusulkan adanya adendum atau klausul pengecualian, terutama pada kondisi cuaca ekstrem,” ujar Eddy Martono.

PWI: Lawan Kampanye Negatif dengan Jurnalisme Objektif

Menanggapi dinamika tersebut, Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menekankan pentingnya peran strategis media dalam menyajikan informasi yang objektif, berimbang, dan berbasis data empiris di tengah gempuran kampanye hitam (negative campaign) terhadap sawit Indonesia di panggung global. Menurutnya, perdagangan internasional kerap kali memoles isu lingkungan dan ketenagakerjaan sebagai instrumen proteksionisme untuk mendiskreditkan sawit nasional.

“Tantangan utama industri sawit adalah membuktikan tata kelola yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dunia sangat membutuhkan kelapa sawit karena merupakan minyak nabati paling produktif,” tegas Akhmad Munir, sembari mengingatkan media untuk terus menjalankan fungsi kontrol sosial secara kritis dan konstruktif.

Sawit Berkelanjutan Sebagai Keniscayaan Nasional

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Universitas Jember, Prof. Dr. Ermanto Fahamsyah, memandang kelapa sawit sebagai anugerah besar bagi Indonesia yang harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik demi kemakmuran bersama.

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF sekaligus President of ASAE, Prof. Dr. Bustanul Arifin, menegaskan bahwa transformasi menuju sawit berkelanjutan bukan sekadar instrumen untuk meredam tekanan eksternal, melainkan kebutuhan mendesak bagi daya saing jangka panjang bangsa.

“Sawit berkelanjutan adalah keniscayaan nasional, bukan sekadar respons atas desakan luar negeri. Kunci daya saing ke depan terletak pada peremajaan kebun rakyat, percepatan sertifikasi, dan penguatan kemitraan yang adil,” jelas Bustanul Arifin, menyoroti pentingnya reduksi yield gap serta perluasan sertifikasi ISPO dan RSPO.

Menjaga Keseimbangan Kepentingan Nasional di Ruang Publik

Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, Agus Sudibyo, turut mengingatkan pentingnya merawat keseimbangan antara kebebasan pers dan keberpihakan pada kepentingan nasional. Perhatian terhadap isu lingkungan, imbuhnya, harus berjalan seiring dengan pengakuan atas kontribusi masif industri sawit bagi perekonomian Indonesia.

Melalui forum ini, industri sawit diidentifikasi memiliki peran fundamental sebagai:

  • Penyumbang devisa nonmigas terbesar Indonesia.
  • Penyerapan jutaan tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung.
  • Katalisator penggerak perekonomian daerah.
  • Pilar utama ketahanan dan kemandirian energi nasional lewat program biodiesel.
  • Penyedia utama minyak nabati dan bahan baku industri pangan global.

Melalui penyelenggaraan Workshop Jurnalistik GAPKI-PWI ini, diharapkan para jurnalis kian tajam melihat kompleksitas industri kelapa sawit secara komprehensif, sehingga karya jurnalistik yang dihasilkan mampu mencerdaskan publik, meredam misinformasi, serta mengawal kejayaan sawit nasional secara berkelanjutan.

Sumber: gapki.id

Artikel Terkait