• Sabtu, 3 Oktober 2026
Kinerja

Sinergi BPDP dan AKPY-STIPER Dorong Inovasi UMKM Sawit

Upaya memperkuat peran industri kelapa sawit dalam mendukung ketahanan pangan dan energi terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya diwujudkan lewat Workshop and Conference UMKM Sawit Jogja 2026 dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi yang digelar AKPY-STIPER dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk workshop, konferensi, pelatihan teknis, hingga pameran produk tersebut berhasil menarik antusiasme peserta dari berbagai kalangan, digelar di kampus AKPY-STIPER, pada Rabu-Kamis (22-23 April 2026).

Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan, SP, MP, menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis dengan manfaat yang sangat luas, baik sebagai sumber energi, bahan pangan, maupun produk turunan bernilai tambah tinggi.

“Seluruh mahasiswa, khususnya penerima beasiswa BPDP, harus memahami potensi besar agribisnis sawit. Tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga peluang kewirausahaan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kemandirian pangan dan energi,” ujar Dr. Sri Gunawan.

Menurutnya, pemahaman menyeluruh terhadap agribisnis sawit dari hulu hingga hilir menjadi hal penting bagi generasi muda, terutama dalam mendorong lahirnya inovasi dan pelaku usaha baru berbasis sawit.

Melalui kegiatan ini, AKPY-STIPER mendorong terwujudnya kemandirian pangan dan energi berbasis UMKM sawit. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan pelaku UMKM, penguatan hilirisasi dan inovasi produk, serta pengembangan kelembagaan dan jejaring bisnis baik secara konvensional maupun digital.

Tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, workshop ini juga diarahkan sebagai sarana edukasi publik untuk memperkuat citra positif industri sawit. Peserta diberikan pemahaman mengenai kontribusi strategis sawit terhadap perekonomian nasional, ketahanan pangan, energi, hingga aspek keberlanjutan lingkungan apabila dikelola secara baik dan bertanggung jawab.

Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara UMKM, koperasi, perguruan tinggi, pemerintah, perusahaan sawit, hingga lembaga riset. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas, memperkuat peluang permodalan, serta mempercepat transfer teknologi di sektor sawit.

Berbagai agenda dihadirkan dalam workshop dan konferensi tersebut, mulai dari pembahasan kebijakan dan strategi hilirisasi sawit berbasis UMKM, pelatihan pengolahan produk pangan, energi, oleokimia, dan oleofood berbasis sawit, hingga pelatihan pemasaran digital. Selain itu, expo produk UMKM sawit juga digelar untuk mempertemukan pelaku usaha dengan perusahaan dan pemerintah dalam memperluas jejaring bisnis.

Melalui kegiatan ini, AKPY-STIPER berharap lahir lebih banyak pelaku UMKM sawit yang inovatif, berdaya saing, dan mampu menjadi motor penggerak dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi nasional.

Perkuat Narasi Positif Sawit

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dukungan BPDP menjadi salah satu penguat utama arah pengembangan industri sawit berbasis masyarakat. Dukungan itu terutama difokuskan pada pengembangan energi terbarukan, oleofood dan oleochemical sawit, pemberdayaan UMKM dan koperasi petani perkebunan, serta kampanye “24 Jam Bersama Produk Sawit” yang mengedukasi masyarakat tentang manfaat sawit dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Divisi Kemasyarakatan dan UKMK BPDP, Helmi Muhansah, menegaskan bahwa workshop dan konferensi ini bukan sekadar forum peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi publik industri sawit Indonesia.

“Kegiatan workshop dan konferensi UMKM Sawit Jogja 2026 merupakan implementasi dari program promosi BPDP yang memiliki mandat untuk membangun narasi positif industri kelapa sawit di tengah berbagai tantangan persepsi publik,” ujarnya saat memberikan sambutan secara daring melalui zoom meeting, Kamis (23 April 2026).

Menurut Helmi, BPDP menjalankan fungsi positive campaign untuk menyeimbangkan bahkan melawan berbagai black campaign yang kerap diarahkan kepada industri sawit.

Ia menjelaskan, pendekatan promosi yang dilakukan BPDP kini tidak lagi bersifat semata-mata institusional atau top-down, tetapi melibatkan langsung pelaku usaha kecil, menengah, dan koperasi sebagai aktor utama di lapangan.

Melalui workshop ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis dan peluang usaha berbasis produk turunan sawit, tetapi juga memahami posisi strategis mereka dalam ekosistem industri sawit nasional.

“Ketika UMKM merasakan langsung manfaat ekonomi dari sawit—baik melalui produk pangan, energi, maupun turunan lainnya—maka secara alami mereka akan menjadi bagian dari narasi besar industri ini,” ungkapnya.

Menurutnya, pelaku UMKM tidak hanya berperan sebagai produsen dan penggerak ekonomi, tetapi juga dapat menjadi penyampai cerita positif mengenai industri sawit kepada masyarakat luas.

Helmi menambahkan, efektivitas promosi industri sawit sangat bergantung pada pengalaman nyata yang dirasakan para pelaku usaha. Karena itu, workshop dan konferensi seperti ini dirancang untuk mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat dalam satu ruang kolaborasi yang mampu membangun pemahaman utuh tentang industri sawit dari hulu hingga hilir.

Dengan pendekatan tersebut, Workshop UMKM Sawit Jogja 2026 tidak hanya menjadi ruang belajar dan pengembangan jejaring bisnis, tetapi juga bagian dari gerakan kolektif dalam memperkuat citra positif sawit Indonesia melalui bukti nyata, inovasi, dan pengalaman langsung para pelaku usaha.

Peserta antusias

Sejumlah 250 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelaku UMKM, akademisi, pelajar hingga praktisi industri sawit sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan kapasitas usaha berbasis sawit.

Peserta mengikuti pemaparan materi, diskusi, hingga praktik pembuatan produk turunan sawit seperti body butter, lilin aromaterapi, dan sabun. Materi yang dibahas meliputi pengembangan produk, peluang pasar, serta strategi menghadapi tantangan UMKM berbasis sawit.

Ketua Pelaksana Workshop & Conference UMKM Sawit Jogja 2026, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., mengatakan tingginya partisipasi peserta menunjukkan besarnya minat terhadap pengembangan UMKM sawit.

“Semangat peserta terlihat sejak awal hingga sesi praktik pembuatan produk berbahan turunan sawit. Mereka aktif dan menunjukkan minat besar,” ujarnya.

Salah satu peserta, Zul Fadla Jamil dari INSTIPER Yogyakarta, menilai kegiatan tersebut menambah wawasan mengenai pemasaran, pengembangan usaha, serta potensi sawit sebagai bahan baku produk bernilai tambah.Panitia menyebut kegiatan ini menjadi sarana berbagi pengalaman, memperluas jaringan, dan membuka peluang kolaborasi antara dunia usaha dan pendidikan. Ke depan, AKPY-STIPER bersama dukungan BPDP berencana kembali menggelar kegiatan serupa dengan konsep berbeda.

Artikel Terkait