• Kamis, 1 Oktober 2026
Hot Issue

Shell Expert Connect Menjadi Jembatan Peningkatan Produktivitas Hulu dan Hilir Sawit

Shell Indonesia kembali menyelenggarakan Shell Expert Connect sebagai platform diskusi strategis untuk mendorong peningkatan produktivitas sektor agrikultur melalui praktik perawatan operasional yang efisien dan berkelanjutan. Mengusung tema Unstoppable Agriculture: Peak Productivity and Operations Efficiency.

Shell Expert Connect 2025 digelar hari ini di Bandung, Jawa Barat, yang mempertemukan lebih dari 150 profesional dengan latar belakang pelaku industri, pembuat kebijakan, perwakilan asosiasi, serta pemangku kepentingan dari industri kelapa sawit.

Plt. DirekturJenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto dalam kata sambutannya menegaskan pentingnya fokus pada peningkatan produktivitas kelapa sawit di lahan eksisting sebagai strategi utama menghadapi lonjakan permintaan domestik untuk biodiesel, khususnya dalam menyambut implementasi program B40 dan B50.

Hal tersebut disampaikannya dalam forum Expert Connect 2025 bertema Unstoppable Agriculture: Peak Productivity and Operations Efficiency yang diselenggarakan oleh Shell Indonesia dan Majalah Sawit Indonesia di Bandung, Rabu (18/6).

“Kita tahu kelapa sawit adalah tulang punggung ekonomi Indonesia dengan luasan 16,8 juta hektare. Tugas kita kedepan bukan hanya mempertahankan posisi nomor satu dunia, tetapi juga melestarikan lingkungan dan menyejahterakan masyarakat, khususnya petani,” ujar Heru.

Menurutnya, roadmap pengembangan biofuel nasional menuntut ketersediaan pasokan CPO dalam jumlah besar. Untuk memenuhi kebutuhan program B50, diperkirakan dibutuhkan sekitar 7 juta ton CPO per tahun. Sementara itu, produktivitas sawit nasional saat ini rata-rata hanya 3,6 ton/ha/tahun.

“Potensi benih yang telah dilepas pemerintah bisa mencapai 7 hingga 9 ton per hektare. Artinya ada gap 3-4 ton yang bisa dikejar. Kalau produktivitas naik ke 7 ton, kita bisa hasilkan tambahan 7 juta ton CPO tanpa perlu ekspansi lahan,” jelas Heru.

Heru menegaskan bahwa langkah intensifikasi seperti peremajaan (replanting) dan pembenahan budidaya di hulu lebih realistis dibanding membuka lahan baru. Ia juga menyentil lambatnya progres Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dinilai masih menghadapi berbagai hambatan, terutama dalam verifikasi dan pelaksanaan di lapangan.

“Melalui forum ini, saya ingin menggugah perusahaan besar untuk mendorong PSR jalur kemitraan. Salah satu jalurnya adalah kolaborasi antara petani dengan kebun inti, didukung pembiayaan dari BPDPKS,” katanya.

Heru mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun produktivitas dan keberlanjutan industri sawit Indonesia. Ia menutup dengan harapan bahwa forum Shell Expert Connect dapat menjadi ruang diskusist rategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan penyedia teknologi seperti Shell Indonesia.

Farista Andi Kusuma, Vice President Technical Lubricants, Shell Indonesia, mengatakan, “Shell Indonesia meyakini bahwa praktik perawatan operasional yang optimal adalah fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing industri, termasuk di sektor agrikultur. Kami menghadirkan solusi terintegrasi, bukan hanya produk pelumas, tetapi juga pendampingan langsung di lapangan dan teknologi perawatan prediktif untuk membantu mitra industri mengidentifikasi dan memaksimalkan efisiensi di seluruh mata rantai produksi, dari hulu ke hilir.”

“Shell bukan hanya perusahaan energi, tapi juga mitra teknologi yang memahami tantangan industri. Kami tidak hanya menjual produk, tetapi membawa solusi terintegrasi,” ujar Farista Andi.

Dikatakannya, Shell memiliki sejarah panjang di Indonesia sejak tahun 1885, dengan akar yang bermula di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara. Kini, perusahaan telah hadir di 175 negara dengan jaringan rantai pasok global yang mencakup lebih dari 50 fasilitas produksi, termasuk plant CTL (Coal to Liquid), grease, dan pelumas dasar (base oil).

Di Indonesia, Shell mengoperasikan Lubricant Oil Blending Plant (LOBP) di Marunda, Jakarta Utara. Fasilitas ini beroperasi sejak 2015 dan telah meningkatkan kapasitas produksi dari 136 juta menjadi 300 juta liter per tahun. Pabrik Manufaktur Gemuk (Grease Manufacturing Plant) yang akan segera diluncurkan juga akan memperkuat kehadiran Shell secara lokal dalam menjawab kebutuhan pelanggan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 165)

Artikel Terkait