JAKARTA, SAWIT INDONESIA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global berpotensi mengalami kenaikan signifikan pada tahun 2027. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya konsumsi minyak sawit untuk kebutuhan energi terbarukan (biodiesel) di dalam negeri yang dikhawatirkan menggerus alokasi volume ekspor ke pasar internasional.
Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng Wahyudiono, menjelaskan bahwa minyak sawit menguasai sekitar 35 persen dari total pasokan minyak nabati dunia. Karena itu, setiap pergeseran volume ekspor dari Indonesia sebagai produsen terbesar dunia akan langsung memengaruhi hukum permintaan dan penawaran (supply and demand) global.
“Kita khawatir kalau banyak terserap di dalam negeri dan ekspornya kurang, apalagi ditambah kurang baiknya panen minyak nabati lain di Eropa, harga akan terdongkrak naik. Jika harga dunia naik, efeknya ke harga minyak goreng dan produk turunan di dalam negeri juga akan merembet,” ujar Hadi dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026).
Poin-poin utama target produksi 2026, efek kemarau terhadap BJR, hingga konferensi internasional IPOC 2026 meliputi:
- Target Produksi Sawit 2026 (58,8 Juta Ton): Kendati dibayangi ancaman ketatnya pasokan 2027, GAPKI optimistis produksi sawit nasional pada 2026 dapat mencapai 58,8 juta ton, disokong curah hujan yang baik serta pemupukan optimal pada tahun sebelumnya.
- Tantangan Penurunan Berat Janjang Rata-rata (BJR): Bendahara Umum GAPKI, Mona Surya, memberikan catatan kritis bahwa Berat Janjang Rata-rata (BJR) di perkebunan sawit sempat turun 17–20 persen dalam dua bulan terakhir akibat dampak kemarau, yang menjadi tantangan bagi pencapaian target akhir tahun.
- Proyeksi Harga Global di IPOC 2026: Mengenai kisaran pasti kenaikan harga CPO pada 2027, GAPKI menyebut angka resmi akan dipaparkan oleh para analis minyak nabati terkemuka dunia seperti Dorab Mistry dari Godrej International pada ajang Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2026.
- Gelaran IPOC 2026 di Bali: Konferensi sawit internasional tahunan ke-22 tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, dengan mengusung tema “Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience”.
Keseimbangan antara pemenuhan energi bersih domestik (mandatori B50) dan stabilitas pasokan pangan internasional diprediksi akan menjadi isu krusial yang menentukan arah pergerakan harga komoditas sawit nasional hingga beberapa tahun ke depan.














