• Minggu, 4 Oktober 2026
Berita Terbaru

Serangga Penyerbuk Tanzania Resmi Dilepaskan ke Perkebunan Sawit Indonesia, Peningkatan Produksi Menjadi Prioritas

​Siantar, SAWIT INDONESIA – Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan pemangku kepentingan industri sawit secara simbolis melakukan pelepasan serangga penyerbuk tanaman sawit asal Tanzania.Kegiatan pelepasan serangga penyerbuk yang dikenal eladobius ini berlangsung di Kebun PPKS Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, menyebut inovasi ini sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang industri sawit Indonesia.

“Kita belajar dari sejarah bahwa inovasi kecil bisa membawa dampak besar,” ujarnya saat dalam sambutan yang dibacakan Direktur Perbenihan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti.

Selama ini, banyak yang melihat kelapa sawit dari sisi luas lahan dan produksi. Namun di balik itu, terdapat proses biologis yang sangat menentukan penyerbukan alami oleh serangga.

"Introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania ini diharapkan mampu mendorong transformasi sistem produksi sawit agar lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan," ujarnya yang dibacakan oleh Direktur Perbenihan Kementan RI, Ebi Rulianti saat memberikan sambutan.

Ebi menjelaskan bahwa Indonesia terakhir kali melakukan introduksi serangga penyerbuk dari Kameran yaitu Elaeidobius Kamerunicus pada 1980-an. Spesies ini menjadi andalan untuk mendukung pembentukan buah sawit atau fruit set di perkebunan petani dan perusahaan.

"Indonesia mengandalkan satu spesies utama yaitu Elaeidobius kamerunicus, yang memberikan kontribusi besar bagi sistem penyerbukan kelapa sawit di Indonesia. Namun, dinamika agroekosistem dan perubahan lingkungan menuntut kita untuk terus beradaptasi dan melalukan inovasi untuk memperkuat produktivitas," jelasnya.

Pada 2025, Indonesia telah mengintroduksi tiga spesies serangga penyerbuk asal Tanzania yaitu E. subvittatus (1.704 ekor), E. kamerunicus (1.494 ekor), dan E. plagiatus (1.359 ekor).

Ketiga spesies ini telah melalui pengujian karantina ketat di Insektarium PPKS Marihat PT Riset Perkebunan Nusantara yang berada dalam pengawasan Badan Karantina Indonesia yang mencakup kemurnian spesies, keamanan ekologis, keefektifan, kompetisi antar spesies, dan analisis metagenomic.

“Mulai eksplorasi dari negara asal, kemudian pengujian yang komprehensif ini melibatkan Agen hayati juga kementerian dan Lembaga. Dari seluruh pengujian tersebut menunjukkan bahwa spesies yang diintroduksi memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Langkah yang kita ambil ini adalah kebijakan berbasis sains, terukur dan tetap menjujung tinggi prinsip kehati-hatian,” papar Ebi.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengatakan bahwa pelepasan ketiga spesies serangga penyerbuk tersebut salah satu solusi untuk mengatasi stagnasi produktivitas kemampuan serangga penyerbuk Elaeidobius Kamerunicus yang diintroduksi pada 1980-an karena kemampuannua dalam penyerbukan mengalami penurunan, sehingga penyerbukan tidak maksimal dan produksi TBS stagnan bahkan cenderung menurun.

"Pelepasan serangga penyerbuk hari ini merupakan rangkaian dari HUT GAPKI ke-45 yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas melalui pengkayaan Sumber Daya Genetis baru (SDG) dari daerah asal kelapa sawit," tambah Eddy Martono.

Hadir dalam kegiatan ini antara lain Dr. Iim Mucharam, S.P., M.P. (Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian), Alfansyah (Direktur BPDP), Prof. Didiek Hadjar Goenadi (Ketua Komite Riset BPDP), Dr. Antarjo Dikin (Badan Karantina Indonesia), Rediman Silalahi (Direktur Operasional PalmCo), dan Dr. M. Edwin Syahputra Lubis (SEVP PT RPN).

Artikel Terkait